Kemesraan Yang Hilang Antara Sunda Dan Islam

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh : Zulkifli Malik

Lagi Asyik – Asyiknya (edisi ke-1)

Islam dan Sunda adalah dual hal menarik untuk diperbincangkan, bukan untuk saling diperhadapkan, tetapi lebih kepada peneguhan bahwa Islam dan Sunda semestinya diposisikan seperti halnya dua orang kekasih yang sedang merajut kasih, yang ketika bersama inginya mesra ketika jauh keduanya mengemis rindu.

Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa etnis Sunda identic dengan Islam karena memang mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga sebuah anomaly jika orang Sunda yang tidak beragama islam. Bahkan, secara ekstrim ada tokoh Sunda yang mengatakan, “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam.” Pernyataan ini tentu kontoversial, karena berarti mereduksi Islam yang bersifat samawi dengan kesundaan yang bersifat terbatas dan etnis (ardhi).

Oleh karena itu, Ajip rosidi menengahinya dengan mengatakan,”Islam heula samemeh Sunda.” Jadi, pertama-tama orang Sunda harus Islam dahulu, dan segala sesuatu yang Sunda tak bertentangan dengan Islam dapat menjadikan seorang Sunda Islam menjadi Sunda. Dan dikalangan masyarakat Sunda, terlihat bahwa dua kekuatan ini mempengaruhi perilaku dan orientasi hidupnya, ada yang lebih kuat keislamanya dan sebagian warga lain di daerah-daerah lebih kuat pengaruh system Sunda wiwitan dari pengaruh Hindu-Budhanya.

Dalam catatan sejarah dan karya-karya sastra terlihat hubungan Islam dan Sunda sedemikian mesra. Namun, tidak sekedar mesra, sebab kemesraan yang terbentuk lebih banyak terjadi di kalangan intelektual, bukan politik. Akan tetapi, menurut saya, masalah terbesar hubungan Islam dan Sunda saat ini justru berlangsung dibidang politik.

Fenomena radikalisme dan Intoleran keagamaan di beberapa kota/kabupaten menimbulkan kekhawatiran yang mendalam. Terlebih provinsi tempat dimana Sunda berdiri dianggap sebagai penyandang Tingkat Intoleran paling tinggi. Lalu, masihkah Islam dan Sunda terjalin dalam suatu hubungan yang mesra?

(jul/tasikraya.com)

  • Bagikan