Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Keluarkan dan Duduki Kursi DPRD Kota Tasikmalaya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Tasikmalaya- Sebanyak dua ribu massa aksi gabungan Mahasiswa Tasikmalaya, massa SMA/STM dan elemen masyarakat menggelar demonstrasi ke gedung DPRD Kota Tasikmalaya, mereka menolak keras atas kenaikan BBM yang disahkan Presiden Jokowi pada tanggal 3 September 2022.

Massa aksi mahasiswa yang terdiri dari PMII, HMI, IMM, Hima Persis, Kammi dan Siswa STM Tasikmalaya mengepung DPRD Kota Tasikmalaya, Kamis (8/9/2022).

Bertajuk aksi Tasik Kelabu tersebut Mahasiswa Tasikmalaya Raya berhasil mendobrak pagar dari kepolisian dan berhasil menduduki Gedung Paripurna.

Sebelum menuju ke Gedung DPRD, Mahasiswa Tasikmalaya Raya sempat berorasi di Simpang Jati, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Silih berganti orasi penolakan kenaikan BBM yang dilakukan oleh beberapa orator.

Kemudian, setelah berorasi di Simpang Jati semua mahasiswa itu longmarch menuju halaman DPRD Kota Tasikmalaya. Lalu, mereka meminta sebanyak 45 anggota DPRD Kota Tasikmalaya itu untuk hadir di hadapan mahasiswa dan elemen masyarakat Kota Tasikmalaya.

Tetapi, saat di konfirmasi mahasiswa kepada Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H Aslim, SH. ternyata dari jumlah 45 anggota DPRD di Kota Tasikmalaya yang hadir tadi cuma 15 orang.

Massa aksi kecewa dengan minimnya anggota DPRD yang hadir, sehingga mereka mengeluarkan 45 kursi dari gedung paripurna dan memindahkannya ke jalan raya, kemudian kursi-kursi wakil rakyat tersebut diduduki oleh Mahasiswa.

“Ini merupakan aksi bagaiamana kita bersatu dari berbagai elemen mahasiswa dan elemen masyarakat serta massa STM Tasikmalaya.”Tegas Sadid Farhan selaku Presiden Mahasiswa Universitas Siliwangi saat dimintai keterangan di lokasi.

Ia menyatakan bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Gabungan Mahasiswa Tasikmalaya Raya ini untuk menyampaikan suara mereka, bahwa mahasiswa Tasikmalaya menolak dengan tegas dan keras kenaikan harga BBM oleh Pemerintah Pusat.

Massa aksi menyatakan akan melakukan demonstrasi kembali, dan meminta 45 anggota DPRD di Kota Tasikmalaya untuk bisa hadir semuanya.

“Kita juga mengambil kursi di Paripurna untuk dikeluarkan sebagai simbol bahwa DPRD Kota Tasikmalaya tidak serius menanggapi aksi Mahasiswa.”Ujar dia.

Sementara, kursi kosong yang di tempati para mahasiswa itu sebagai simbol bagaimana hari ini, suara rakyat yang paling sejatilah yang hari ini dapat menguasi dan mengeluarkan kursi-kursi di Gedung Paripurna DPRD.

“Sebagai simbol ketidakhadiran mereka di tengah-tengah kita, sebagai bentuk simbolic dan bentuk perlawanan kepada mereka, mahasiswa berhasil menguasai gedung DPRD dan berhasil menarik kursi 45 sesuai jumlah anggota DPRD Kota Tasikmalaya.”Jelasnya.

Mahasiswa menyatakan bahwa anggota DPRD Kota Tasikmalaya sudah tidak lagi mendengar suara rakyat, sehingga mereka harus diganti.

“Ini merupakan asas bentuk bahwa mereka sudah tidak lagi mendengarkan kita, suara rakyat adalah suara tuhan yang harus di dengar.”Tuturnya.

“Mereka harus di ganti, karena tidak becus dalam bekerja.”Pungkasnya.

 

(Rizky/tasikraya)

banner
  • Bagikan