Tasikmalaya, tasikraya.com–
Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu pemandangan di Cisayong yang semestinya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: apa arti Kemerdekaan bagi masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Kecamatan Cisayong dikenal sebagai wilayah yang memiliki sumber mata air. Namun ironisnya, masyarakat di wilayah tersebut masih harus mencari dan menunggu bantuan untuk memperoleh air bersih.
Encep Gunawan Aktivis Cisayong mengatakan dokumentasi warga yang membutuhkan air bukan sekadar gambar.
“Itu adalah potret kondisi sosial yang seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama.”Ucap Encep kepada wartawan, Jumat Malam (14/8/2026).
Ditengah keadaan tersebut, Polsek Cisayong patut diapresiasi karena bergerak cepat membantu masyarakat melalui distribusi air bersih.
Selain itu, bantuan darurat tidak boleh menjadi alasan untuk menganggap persoalan selesai.
“Justru disinilah Perumda Tirta Sukapura harus ditantang untuk menjawab persoalan secara serius.”Terangnya.
PDAM Jangan Hanya Mengelola Air Tetapi Harus Mengelola Keadilan
“Perumda Tirta Sukapura bukan sekadar institusi yang mengelola air. Sebagai badan usaha milik daerah yang bergerak dalam pelayanan air minum. Sehingga memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan air dapat diakses masyarakat secara layak.”Ungkapnya.
Sehingga, ketika warga di wilayah sumber mata air justru mengalami kesulitan air, publik berhak mempertanyakan kualitas keberpihakan dalam sistem pelayanan tersebut.
“Jangan sampai yang dikelola dengan baik hanya sumber airnya sementara akses masyarakat terhadap airnya justru terabaikan. Jika Kecamatan Cisayong memiliki sumber mata air, maka masyarakat sekitar sumber semestinya mendapatkan perhatian lebih dalam kebijakan pelayanan terutama masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi.”Paparnya.
Bukan berarti warga Cisayong harus mendapatkan air secara cuma-cuma tanpa aturan.
Kendati demikian, tetapi harus ada kebijakan afirmatif dan mekanisme perlindungan bagi masyarakat tidak mampu, sehingga keterbatasan ekonomi tidak berubah menjadi keterbatasan hak atas air bersih.
“Ada sesuatu yang patut kita renungkan
ketika masyarakat kesulitan air justru institusi yang bukan penyelenggara utama pelayanan air harus turun tangan memberikan bantuan, tentu langkah Polsek Cisayong layak diapresiasi.”Tuturnya.
Encep menyebutkan kondisi tersebut sekaligus menjadi tamparan keras bagi Perumda Tirta Sukapura.
Sebab, kata Encep, pertanyaan publik kemudian menjadi sangat sederhana mengapa institusi yang bukan pengelola utama air harus hadir terlebih dahulu ketika masyarakat mengalami krisis air.
“Perumda harus mampu menjawabnya dengan data bukan sekadar penjelasan normatif. Dari mana sumber air untuk wilayah Cisayong? Berapa kapasitasnya?
Bagaimana jalur distribusinya? Berapa masyarakat yang terlayani?.”Bebernya.
Apa kebijakan Perumda untuk memastikan masyarakat miskin yang tinggal di sekitar sumber mata air tetap memperoleh air bersih.
“Jangan jadikan kemarau sebagai alibi tahunan kalau persoalannya kemarau, maka Perumda harus menunjukkan kesiapan menghadapi kemarau. bukan peristiwa yang baru diketahui ketika warga sudah membawa ember.”Tambahnya.
Karena itu, jika setiap musim kemarau persoalan air kembali muncul dan masyarakat kembali membutuhkan bantuan maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya cuacanya.
“Yang harus dievaluasi adalah sistem pelayanan publik tidak boleh bekerja dengan pola masyarakat kesulitan, krisis terjadi, mobil tangki datang, kemudian persoalan dianggap selesai.”Imbuhnya.
Menjelang Hari Kemerdekaan, kata Encep, kita akan kembali berbicara tentang kesejahteraan dan keadilan sosial.
Sebab, sangat tidak elok apabila wilayah sumber mata air justru memiliki masyarakat yang harus menunggu bantuan air.
“Cisayong tidak meminta keistimewaan yang berlebihan. Masyarakat hanya meminta agar keberadaan sumber air di wilayahnya juga menghadirkan keberpihakan kepada mereka yang paling membutuhkan.”Sambungnya.
Menjelang Hari Kemerdekaan, kritik ini layak disampaikan jangan hanya memastikan air dapat diproduksi.
Pastikan pula keadilan dapat di distribusikan. Karena Cisayong adalah sumber mata air. Dan jangan sampai sejarah mencatat ironi.
“Di tanah yang kaya mata air, rakyatnya justru kehausan.”Singkatnya.
Terakhir, Merdeka bukan hanya ketika bendera berkibar. Merdeka adalah ketika kebutuhan dasar rakyat tidak lagi menjadi sesuatu yang harus mereka perjuangkan sendiri.

