PKH Sukses Dampingi KPM Dari Kuli Hingga Graduasi

  • Bagikan
banner 468x60

Kabupaten Tasikmalaya – Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) memberikan dorongan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) untuk tidak terlena dengan bantuan dan dapat secara bertahap menjadi keluarga yang mandiri dan Graduasi, Kadipaten kab. Tasikmalaya Senin (23/09/19).

Menjadi KPM PKH bagi sebagian masyarakat merupakan sebuah anugerah tersendiri. bagaimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial, mereka diberi bantuan setiap tiga bulan sekali.

“Melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) yang dilakukan setiap bulan, pendamping PKH terus memotivasi ibu-ibu KPM agar bisa mandiri dan tidak ketergantungan terhadap bantuan.” ujar Apwina, supervisor PKH wilyah utara.

Terbukti Eti Maryati (44), salah satu KPM Desa Buniasih kecamatan Kadipaten memutuskan untuk mengundurkan diri (Graduasi) setelah hampir dua tahun menjadi KPM PKH.

Berawal dari keseharian sebagai kuli jahit tas di Rajapolah, Eti dan Suparjo (suami) mulai mencari peluang usaha sendiri dengan harapan peningkatan taraf hidup dan tidak bergantung pada orang lain dalam mencari rejeki.

Tahun 2017 Eti dan Suparjo mulai menyadari maraknya penggunaan smartphone dan tablet, dari situ muncul ide untuk membuat produk yang bisa menjadi wadah atau pelindung keduanya.

Bermodal uang bantuan PKH yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, mereka membuat dompet-dompet dengan ukuran bervariasi sesuai dengan peruntukannya.

Jenis usaha yang sukses di kembangkan oleh Eti Maryati salah satu KPM PKH di Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya.

Suparjo melakukan pemasaran dengan cara berkeliling dari satu kota ke-kota lainnya seperti Bekasi, Bandung, dan beberapa daerah di Jawa Tengah.

Selain itu, dirinya juga mencoba peruntungan dengan memposting produknya di facebook. Tak disangka, peminat produknya lumayan banyak, bahkan hingga luar pulau Jawa.

Omset yang dihasilkan dalam sekali pengiriman bisa mencapai sepuluh juta rupiah, tapi masih fluktuatif sebagaimana order yang masuk.

“Kalau inget dulu mah perih, upah dari ngejait berdua sama istri cuma seratus empat puluh ribu per dua minggu, belum dipotong ongkos”, ujar Suparjo, saat di temui wartawan tasikraya.

Melihat apa yang mereka hasilkan tidak seberapa dengan keberhasilan sang pemilik usaha, Suparjo bertekad kuat untuk terus bekerja keras, rajin, dan jujur agar segera bisa memiliki usaha sendiri.

Mottonya adalah memajukan lingkungan sekitar dengan usaha kreatif, bukan memajukan pihak lain. Terbukti, setelah usaha yang dirintisnya berjalan lancar, Suparjo dan Eti kini mulai mempekerjakan tiga orang yang masih merupakan tetangga dekatnya dengan hasil produksi 40 lusin/hari.

Hal ini tidak terlepas dari kerja keras pendamping di lapangan untuk terus memotivasi ibu-ibu KPM agar bisa mandiri dan tidak ketergantungan terhadap bantuan melalui kegiatan rutin bulanan; Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2).

Tsani Yulianti, pendamping PKH Kecamatan Kadipaten merasa terharu dan salut atas kerja keras Ibu Eti dan Bapak Suparjo yang mampuh mandiri dari program KPM PKH.

“Saya merasa haru dan salut atas kerja keras Ibu Eti dan Bapak Suparjo. Mereka punya pola pikir yang produktif dan tidak sekedar tergantung dari bantuan, yang mana ini bisa menjadi pembelajaran khususnya buat saya, dan untuk ibu-ibu KPM PKH yang lainnya.” ungkapnya.

(ijul/tasikraya)

  • Bagikan