Papeditas Latih Ratusan Pramuniaga Asia Plaza Bahasa Isyarat

  • Bagikan
banner 468x60

Tasikmalaya, tasikraya.com-
Hampir 300 Karyawan Asia Plaza Mall tampak serius memperagakan gerakan bahasa isyarat dengan bahagia bergema tepuk tangan.

Namun, dari ruang itulah lahir sebuah kesadaran baru untuk melayani pengunjung bukan hanya soal keramahan, melainkan juga kemampuan berkomunikasi dengan semua orang tanpa terkecuali.

Sebagai pusat perbelanjaan terbesar di wilayah Priangan Timur, Asia Plaza Mall selama ini telah menyediakan berbagai fasilitas fisik yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Dimulai, kursi roda tersedia, toilet khusus disabilitas telah dibangun begitu pula akses bagi pengguna kursi roda dan penyandang tuna daksa.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ruang publik yang lebih mudah diakses.

Sontak, dibalik kelengkapan infrastruktur itu, manajemen menyadari masih terdapat satu celah yang tidak kalah penting yakni kualitas komunikasi antara petugas layanan dengan pengunjung penyandang disabilitas, terutama mereka yang menggunakan bahasa isyarat.

Kesadaran itulah yang mendorong manajemen menggandeng Papeditas untuk memberikan edukasi mengenai etika pelayanan Disabilitas sekaligus pengenalan bahasa isyarat kepada para Pramuniaga dan petugas keamanan.

Chief HRD Mall Asia Plaza, Bonny Hastuti Yuniasih mengatakan sebuah pusat perbelanjaan modern tidak cukup hanya menghadirkan bangunan yang aksesibel. Pelayanan terbaiknya dari sisi manusianya juga harus inklusif.

“Mall Asia Plaza merupakan Mall terbesar di Priangan Timur. Tentunya kami harus memberikan layanan terbaik bagi seluruh pengunjung termasuk kaum Disabilitas. Secara fisik aksesibilitas di Mall sudah memadai dengan tersedianya Kursi roda, Toilet Disabilitas, hingga fasilitas bagi tuna daksa. Namun dibalik itu, SDM kami seperti Pramuniaga, Kasir, Spg, Spb, maupun satuan pengamanan belum semuanya mahir menggunakan bahasa isyarat ketika melayani pengunjung berkebutuhan khusus.”Jelas Bonny Hastuti, Selasa (4/8/2026).

Ia mengatakan jumlah Sumber Daya Manusia di Asia Plaza cukup besar sehingga proses peningkatan kapasitas tidak mungkin dilakukan dalam satu kali pelatihan.

“Karena SDM kami banyak sekali edukasi ini akan dibagi dalam beberapa season agar seluruh karyawan bisa mengikuti pelatihan yang diberikan Papeditas. Insya Allah hari Kamis nanti kami lanjutkan dengan tim Supermarket.”Tegasnya.

Lalu, pernyataan itu menggambarkan bahwa inklusivitas bukan sekadar program seremonial, melainkan proses panjang yang membutuhkan pembelajaran berkelanjutan.

Sementara itu, Operational Manager Mall Asia Plaza, Roni Apriliansyah yang hadir saat acara, menilai kualitas pelayanan kepada penyandang disabilitas harus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak-hak kelompok rentan.

Menurutnya, pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan memiliki latar belakang yang beragam. Karena itu, setiap Karyawan perlu dibekali kemampuan memahami kebutuhan pelanggan, termasuk mereka yang mengalami hambatan pendengaran maupun komunikasi.

Dihadapan ratusan peserta, para fasilitator Papeditas tidak hanya mengajarkan alfabet bahasa isyarat, tetapi juga etika sederhana saat berinteraksi dengan penyandang Disabilitas.

Mereka memperagakan cara menyapa, meminta izin sebelum membantu pengguna kursi roda, hingga pentingnya menjaga kontak mata ketika berkomunikasi dengan penyandang tuli.

Materi-materi tersebut tampak sederhana. Namun, bagi dunia pelayanan publik, keterampilan seperti itu sering kali menjadi pembeda antara layanan yang sekadar tersedia dengan layanan yang benar-benar menghadirkan rasa dihargai.

Berbeda halnya, Pembina Papeditas, Harniwan Obech menyebutkan apresiasi kepada Manajemen Asia Plaza yang membuka ruang kolaborasi bersama komunitas Disabilitas.

Harniwan melanjutkan, langkah tersebut menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha memiliki peran penting dalam menciptakan kota yang lebih ramah bagi semua warganya.

“Terima kasih kepada manajemen Asia Plaza atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada Papeditas. Di Kota Tasikmalaya terdapat sekitar 2.200 penyandang Disabilitas yang tentu memerlukan perhatian bersama. Ketika pusat perbelanjaan mulai membangun pelayanan yang inklusif, masyarakat penyandang disabilitas akan merasa lebih dihargai dan lebih percaya diri mengakses ruang publik.”Tutur Harniwan yang akrab disapa Mang Obech.

Sementara itu, Tim Papeditas yang terdiri dari Aris Rahman, didampingi Eka Rosvita dan Filza Hermatiana, menegaskan bahwa kesetaraan merupakan amanat konstitusi yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas telah menjamin hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pelayanan yang setara di berbagai sektor, termasuk sektor perdagangan dan jasa.

“Kami salut kepada Asia Plaza yang sudah memberikan ruang terhadap tujuan dan cita-cita Tasikmalaya menjadi Kota Inklusi. Ke depan, tidak hanya sektor niaga. Mudah-mudahan edukasi di Asia Plaza bisa menjadi inspirasi untuk dilanjutkan kepada tenaga medis di rumah sakit sehingga pelayanan kesehatan juga semakin inklusif.”Papar Aris.

Harapan tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan di Asia Plaza bukan sekadar meningkatkan kompetensi pramuniaga.

Ia juga menjadi contoh bagaimana perubahan dapat dimulai dari satu institusi, kemudian menjalar ke sektor lain.

Bagi Penyandang Disabilitas, hambatan terbesar sering kali bukan anak tangga atau pintu yang sempit. Hambatan itu justru muncul ketika tidak ada orang yang memahami cara berkomunikasi, tidak mengetahui etika membantu, atau tidak memiliki empati terhadap kebutuhan mereka.

Akhirnya, langkah yang dilakukan Asia Plaza memberi pesan bahwa pembangunan ruang publik yang inklusif tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik. Ia harus disertai perubahan cara berpikir, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan kemauan belajar dari Komunitas Penyandang Disabilitas sendiri.

  • Bagikan