Kota Tasikmalaya- Kebijakan pemerintah dalam menangani Pandemi Covid-19 dianggap kurang berhasil, karena angka penularan terus tinggi dan bahkan angka kematian terus memecahkan rekor.
Hal ini menimbulkan banyak kritikan dari masyarakat, kritikan tersebut datang dari berbagai elemen, baik itu masyarkat umum, kalangan ahli, termasuk mahasiswa, yang salah satunya adalah dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya.
HMI Cabang Tasikmalaya mengingatkan Pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan penanganan pandemi, karena PPKM selama ini dirasa kurang efektif, berdasarkan data yang dikeluarkan pmerintah tanggal 24 juli kemarin, angka positivity rate Indonesia berada di 25,24 %, jauh di atas standar WHO maksimal 5%.
“Angka positivity rate asih jauh dari standar WHO 5%, jadi hal ini kurang efektif, kebijakan ini tidak dibarengi dengan jaminan sosial.” kata Andi Ferdiana, Ketua Umum HMI Cabang Tasikmalaya, Minggu (25/7/2021).
HMI Cabang Tasikmalaya sedang menunggu pertanggung jawaban Pemerintah Pusat terkait keputusan yang mereka buat, apakah membuat kebiajakn baru atau meneruskan kebijakan lama yang tidak efektif.
Andi menjelaskan, bahwa salah satu penghambat tidak efektifnya penanganan pandemi adalah karena ada dua mekanisme pengambilan kebijakan, yaitu sentralisasi dan desentralisasi.
Pemerintah daerah menjadi kurang punya power karena ada sebagian kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat, seperti kebijakan refocusing misalnya, padahal secara politis pimpinan pemerintah daerah punya janji-janji yang harus direalisasikan kepada masyarakat.
“Ini kecenderungan kebijakanya lebih tersentral, wajar ini menjadikan efek psikologis di daerah, ya karena gak bisa ngapa ngapain karena sudah keputusan di Pusat.”tuturnya.
HMI Cabang Tasikmalaya mengkaji progres penanganan pandemi oleh pemerintah, hasilnya adalah banyak target yang meleset, diantaranya target angka positif maksimal 10.000 namun kenyataannya masih di atas 40.000, testing targetnya 324.000 namun realisasinya 127.000, tracing targetnya 300.000 realisasinya 250.000.
Selanjutnya Vaksinasi targetnya 1.000.000/hari namun realisasinya 546.000, positivity rate targetnya 10% realiasinya 25%, penurunan mobilitas targetnya 50% dan relasisasinya baru 20%.
(Rizky/tasikraya)

