Tasikmalaya, tasikraya.com–
Memilukan sekali kisah bocah yang menggugah hati datang dari Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kabupaten Tasikmalaya.
Seorang anak berusia 12 tahun, DK harus berjuang di ambang maut setelah dipatuk ular berbisa jenis Ular Belang (Keling) saat sedang terlelap di lantai Rumahnya.
Anak pasangan Andis Kuswara dan Siti Hindun ini di patukan Ular Keling bagian tangan kananya. Awalnya tidak mengeluh sakit. Orang tua kemudian membawanya menuju tabib kampung. Dia disarankan membawanya ke Rumah Sakit.
“Bobo dibumi sareng abdi ngampar di ruangan tengah. Teu dina dipan terus anjeuna ngobrol mah aya orai. Dipegang dikinten maenan.”Ucap Ibu Kandung Korban, Siti Hindun, di Ruang ICU RSUD KHZ Musthafa.
Namun, di perjalanan korban sudah mengeluh sakit perut. Kemudian setibanya di RSUD KHZ Musthafa korban alami nyeri nelan dan sesak nafas. Dari situ korban pingsan dan langsung ditindak.
“Anak saya teh pingsan aja. Sampai akhirnya cepat ditangani dan dia masuk ke ruangan ICU ieu.”Jelas Siti Hindun.
Sontak, di tengah situasi kritis tersebut, DK tidak berjuang sendirian. RSUD KHZ Musthafa menunjukkan komitmen kemanusiaan yang luar biasa dalam menangani DK.
Sejak tiba dengan keluhan sesak napas dan nyeri hebat, tim medis langsung bergerak cepat menempatkan DK di ruang ICU. Total sudah 10 hari korban dirawat di ruang ICU.
Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr. Eli Hendalia mengatakan bahwa Rumah Sakit memberikan upaya “All-out” demi menyelamatkan nyawa sang bocah.
Pihak RS melakukan penanganan dengan menghadirkan dokter spesialis toksinologi langsung dari Bandung untuk memantau kasus langka ini.
Di saat stok menipis, Tim Rumah Sakit rela menempuh perjalanan bolak-balik Tasikmalaya-Bandung demi menjamin ketersediaan serum anti-venom.
Jika umumnya pasien hanya membutuhkan 3-4 vial anti-venom (racun ular), kondisi DK yang mengalami pelemahan otot paru-paru menuntut penggunaan hingga 50 vial.
Meski DK terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, biaya pengobatannya telah membengkak hingga menyentuh angka Rp 200 juta, jauh melampaui plafon yang ditentukan. Namun, RSUD KHZ Musthafa tidak menyerah pada birokrasi.
“Kami tetap berusaha menyelamatkan jiwa, apalagi ini seorang anak. Insya Allah, Rmah Sakit berkomitmen. Kita akan cari solusi dana untuk menutupi kelebihan biaya tersebut demi membantu masyarakat.”Ujar dr. Eli dengan penuh empati, Selasa (7/4/2026).
Perjuangan ini tidak hanya terjadi di meja operasi, tetapi juga di hati orang tua korban yang dirundung kecemasan untuk biaya sehari-hari ketika anaknya berada di Rumah Sakit. Memahami beban berat tersebut, BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya segera turun tangan memberikan bantuan nyata.
Sontak, Ketua BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya, Eddy Abdul Somadi memastikan bahwa keluarga tidak akan berjuang sendirian dalam masa sulit ini. BAZNAS memberikan bantuan biaya hidup bagi orang tua selama mendampingi DK di Rumah Sakit.
Pihaknya juga menyediakan tempat istirahat yang layak bagi keluarga di rumah singgah agar mereka dapat tetap bugar dan fokus mendukung kesembuhan sang anak tanpa harus memikirkan biaya penginapan.
Melalui kejadian ini, Rumah Sakit juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada, terutama bagi yang tinggal di area persawahan. Penggunaan dipan saat tidur dan kelambu sangat disarankan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Sehingga, dengan kolaborasi antara keahlian medis RSUD KHZ Musthafa dukungan sosial dari BAZNAS, doa dan ikhtiar terbaik terus dipanjatkan demi kesembuhan DK.

