Cinta Adalah Ketaatan

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Iqbal Anggia Yusuf

Sesungguhnya Tuhan menjadikan kita cinta pada keimanan, dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati, manis dalam lisan juga dalam perbuatan. Tentunya, dengan ketaatan dan ketakwaan. Semakin kita taat kepada-Nya, semakin kita dekat dengan pertolongan-Nya. Semakin kita rajin menyucikan diri dari dosa, semakin kuat pula cinta kita untuk menjauhi dan membenci perbuatan dosa.

Kebutuhan cinta manusia adalah setiap saat. Cinta yang dialungkan kepada orang lain adalah bersifat resiprokal. Berbalas, lalu timbul rasa kasih dan sayang. Hanya saja kadar cintanya yang setiap orang berbeda. Biarpun berbeda, tetap kita berikan cinta yang tulus dan tidak sekadarnya. Tetapi, berikanlah cinta kita sebagaimana mestinya.

Pada saat Tuhan menyapa angin, daun-daun di pohon juga oksi-oksi yang dihirup paru-paru adalah atas kehendak-Nya. Jika Tuhan tidak mengehendaki, bisa saja lewat daun-daun dan karbon-karbon yang dihirupnya itu lebih kuat. Meski masih bisa bernafas, tetapi akan terasa begitu sesak.

Jika kita melihat daun-daun yang sedang berdansa itu tidak bertasbih maka, kita salah besar. Mereka selalu bersama Tuhan, dalam ketaatan karena cintanya yang besar. Berdoa dan meliuk-liuk berdansa, begitulah tasbihnya. Tidak berlebih dan selalu ada pada ketaatan. Daun-daun yang hijau itu memberikan oksigen pada manusia karena ketaatannya pada Tuhan.

Maka, sungguh Allah Tuhan Yang Maha Indah lagi Maha Bijaksana. Menghendaki segala sesuatu yang indah-indah. Daun-daun di pohon itu indah, selalu bertasbih karena mereka taat. Juga selalu menebar manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Itulah cinta, menebar manfaat dan menjadikan kita semakin taat pula.

Jika kita sadar dan mengingat kembali bahwa sesungguhnya kita jauh lebih indah daripada daun-daun di pohon itu. Gerakan tangan, ayunan kaki, dan setiap nafas kita adalah tasbih. Tentu, dirinya akan lebih bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Akan lebih berhati-hati dalam melangkah, dan selalu mengingat Tuhan kapan dan di manapun. Oksinya adalah tasbih, pun karbon yang dikeluarkannya adalah tasbih pula. Maka, sungguh Allah Tuhan Yang Maha Kasih.

Jika Tuhan telah menjadi prioritas utama, manusia tak akan berani mengganggu dan meninggalkan waktu untuk bercinta bersama-Nya. Kecintaan maupun kerinduan bersama-Nya. Berhati demi bersama, bercinta dalam takwa, dan demi rasa rindu kepada-Nya.

Malaikat mendoakan kita agar tetap bersabar dalam perjuangan mengarungi jalan-jalan Tuhan, dan benar sangat berlubang, berbatu, berduri, dan bahkan memetir hati. Akan tetapi, jika cintanya karena Ilahi, jalan yang demikian sulitnya itu takkan menjadikan semua perjuangan itu berhenti. Akan kita lewati dengan sepenuh hati, ikhlas, dan istikamah kita arungi.

Pembuktian dari rasa cinta dan kasihlah yang membuat Tuhan merindu. Bukan sekadar mengaku cinta tanpa adanya bukti. Tetapi, buktikan kata cinta itu pada-Nya dengan ketaatan sebagai bentuk dari rasa cinta. Selama tidak melupakan dan melalaikan-Nya, Tuhan pun akan tetap cinta.

Seorang laki-laki maupun perempuan, seorang suami maupun isteri, yang saling mencintai, aduhai betapa indahnya, pun aduhai betapa celakanya. Bila bersatu dan bersama tak saling menguatkan dalam ketaatan, bukanlah cinta namanya. Tetapi, bila bersatu dan saling menguatkan pada ketaatan, itulah cinta namanya. Cinta itu menguatkan, bukan melemahkan. Maka tentu, ketaatanlah yang akan mengantarkan cinta keduanya pada puncak kebahagiaan, pada Tuhan Yang Maha Rahman.

Mencintai atau dicintai, keduanya adalah indah. Anugrah Allah Tuhan Yang Maha Pemurah. Seperti halnya kita saat mencintai seorang manusia. Mencintai karena ada sesuatu yang menarik hati, dan semoga itu adalah karena ketaatannya. Pun dicintai, karena ada sesuatu yang menarik dan istimewa dari diri kita, dan semoga itu pun adalah karena ketaatan.

Sejak Adam dan Hawa turun ke bumi, sejarah cinta tetap ada pada ketaatan. Dengan tobat dan taat, jadilah cinta mereka merekat. Kita pun sama, semakin keimanan dan ketakwaan kita terus bertambah kuat, maka, semakin dekat dan kuat pula cinta-Nya pada kita.

Cinta itu adalah sumber kekuatan, menciptakan ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Bukanlah cinta namanya jika yang tercipta adalah kelalaian dan kedurhakaan. Karena sesungguhnya cinta itu adalah ketaatan. Wallaahulmustaan.

  • Bagikan