Zakat dan Pandemi: Sebuah Solusi Untuk Mengatasi Resesi

  • Bagikan
banner 468x60

Penulis: Maulana Yusuf

(Peserta Advance Training Badko HMI Riau/Kepri)

Tahun 2020 seluruh negara di dunia disibukkan dengan pertarungan melawan Covid-19. Tidak hanya negara berkembang saja yang ketar ketir melawan virus ini, semua negara termasuk negara maju juga mengalami kondisi yang sama. Dampak dari Covid-19 ini sangat luas dan menjangkau berbagai aspek sosial, politik dan ekonomi. Aktivitas kehidupan hampir di seluruh negara mengalami perubahan kebiasaan, cara bersosialisasi juga mengalami perubahan dimana seseorang harus memakai masker ketika keluar rumah. Ekonomi juga menjadi bidang yang terkena dampak Covid-19 cukup serius, semua negara sekarang dihantui akan resesi ekonomi.

Resesi ekonomi adalah kemerosotan pertumbuhan ekonomi hingga negatif selama 2 kuartal dalam setahun. Sederhananya, ekonomi suatu negara mengalami reses(istirahat) dari kegiatan, artinya tidak ada kegiatan yg berkaitan dengan ekonomi.

Indonesia di tahun 2020 pada kuartal I mengalami pertumbuhan sebesar 2, 97% , kondisi ini masih bisa dibilang bagus walaupun tidak sebagus pada kuartal IV tahun 2019. Namun jika kita bandingkan dengan negara tetangga Malaysia, pada kuartal I tahun 2020 pertumbuhan ekonominya hanya 0,7% (source: Kompas.com). Masyarakat masih bisa bersyukur mendengar berita ini. Pada kuartal ke II Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sampai ke angka -5,32%. Sebuah peringatan bagi pemerintah bahwa negaranya sedang diancam resesi ekonomi.

Dengan kondisi seperti ini Indonesia terancam mengalami resesi ekonomi, jika pada kuartal ke III nanti ekonomi kita masih mengalami kontraksi yg sama atau lebih buruk dari pada kuartal ke II sudah di pastikan kita akan mengalami resesi ekonomi. Lalu, bagaimana resesi bisa terjadi? Memang banyak faktor yg bisa membuat resesi ekonomi terjadi, namun saya akan coba jelaskan sesederhana mungkin.

Akibat dari Corona ini sektor ekonomi terkena imbasnya dari kebijakan pemerintah yang menerapkan PSBB. Sistem kerja Work from home menjadi jalan yang banyak di tempuh oleh perusahaan. Akibatnya banyak perusahaan yg tidak melakukan aktivitas ekonomi secara optimal, produksi barang dan jasa menjadi terhambat. Bahkan lebih buruk dari itu banyak perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) agar mereka tidak merugi. Orang-orang yang terkena PHK tidak mempunyai pendapatan artinya mereka tidak mempunyai uang untuk di belanjakan. Orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mereka masih mendapatkan uang namun mereka tidak mau membelanjakan uang mereka dikarenakan kondisi ke depan tidak bisa diprediksi akan seperti apa, mereka cenderung lebih “ngirit” dalam membelanjakan uang. Ini yang disebut dengan daya beli masyarakat menurun, sehingga mengakibatkan tidak lancarnya ekosistem ekonomi, karena perputaran uang tidak terjadi antara produsen ke konsumen, pun sebaliknya antara konsumen ke produsen. Inilah salah satu faktor terjadinya resesi ekonomi, adalah menurunnya daya beli masyarakat. Selain itu, secara global seluruh negara juga terkena dampak dari covid-19, banyak negara-negara produsen yg menerapkan lockdown. Membatasi (kalau tidak mau di sebut melarang) masyarakatnya untuk beraktivitas diluar rumah.

Zakat, malaikat pembawa solusi. Zakat sebagai salah satu instrument ekonomi Islam bisa digunakan untuk mengatur perputaran uang. Selain zakat ada juga instrument lain seperti infaq dan shodaqoh. Zakat adalah mengeluarkan harta yg kita punya sebesar 2,5% ketika harta kita sudah mencapai batas minimum kepemilikan. Pendistribusian zakat telah diatur dalam Al Qur’an, bagi umat Islam itu merupakan suatu kewajiban yg tidak boleh di tinggalkan.

Dalam kondisi resesi yang diakibatkan oleh rendahnya daya beli masyarakat, zakat konsumtif menjadi pilihan tepat untuk meningkatkan stimulan konsumsi dan produksi yang secara perlahan nantinya akan mengakibatkan keseimbangan. Dengan begitu, masyarakat jadi punya uang untuk berbelanja kembali dan ini bisa menambah sedikit demi sedikit tingkat daya beli masyarakat.

Selain zakat konsumtif, zakat produktif juga bisa menjadi solusi yaitu dengan memberikan qardul Hasan (pinjaman kebaikan) kepada Mustahik (penerima zakat) yang kekurangan modal usaha. Dengan konsep qardul Hasan ini, peminjam tidak dibebankan imbalan yang memungkinkan untuk digunakan modal usaha selama jangka waktu tertentu dan mengembalikannya dalam jumlah yang sama di akhir periode yg telah disepakati.

Dengan diterapkannya dua konsep di atas akan meningkatkan keseimbangan di berbagai sektor. Konsumen akan terbantu daya belinya, dan produsen akan terbantu modal usahanya. Mungkin, jika negara menerapkan atau mewajibkan dua konsep tersebut, Indonesia akan terselematkan dari bayang-bayang resesi ekonomi.

 

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

  • Bagikan