Tasikmalaya, tasikraya.com- Proyek pembangunan Dapur SPPG Firatama Nutrition memantik gelombang protes warga di Jalan Cikalang Girang, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.
Ditengah padatnya permukiman pembangunan yang diduga belum mengantongi izin ini dinilai berpotensi menimbulkan masalah sangat serius, terutama terkait lingkungan dan keselamatan warga.
Lalu, bangunan yang berada di bawah naungan Yayasan Setia Dharma Prasada itu awalnya tak menimbulkan kecurigaan. Warga mengira aktivitas di eks gudang rongsok tersebut hanya sebatas renovasi biasa.
Namun belakangan terungkap, bangunan itu akan difungsikan sebagai Dapur produksi skala besar untuk program pemenuhan gizi.
Sejak saat itu, keresahan mulai mencuat. Warga sekitar mempertanyakan absennya sosialisasi dari Pemilik SPPG maupun RT/RW dilingkungan tersebut dalam proses pembangunan. Tak ada pembahasan terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Kekhawatiran semakin menguat saat warga menemukan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai jauh dari standar. Dari hasil pantauan di lapangan, konstruksi IPAL disebut hanya menggunakan bata ringan tanpa pengecoran beton yang layak, bahkan bagian dasarnya hanya berupa tanah.
Deden Tazdad salah satu perwakilan warga sekitar mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sangat berisiko terhadap lingkungan sekitar, khususnya sumber air bersih warga.
“Awalnya kami dapat informasi ada pembangunan di eks gudang rongsok yang langsung di awasi oleh RT & RW. Saat dicek, ternyata sedang renovasi & dibangun IPAL untuk Dapur SPPG ini.”Ucap Deden Sabtu Petang, (25/4/2026).
“Kalau limbahnya tidak di proses sesuai SOP, ini jelas berbahaya. Bisa mencemari lingkungan, bahkan merembes ke sumur warga karena jaraknya sangat dekat.”Sambung Deden.
Sehingga, situasi semakin mencurigakan ketika area pembangunan IPAL yang sebelumnya terbuka tiba-tiba ditutup rapat menggunakan papan dan besi. Warga menduga ada upaya menutupi proses pembangunan dari pengawasan publik.
Tak hanya soal limbah, warga juga mengkhawatirkan dampak lalu lintas, Jalan Cikalang Girang yang sempit diprediksi tidak akan mampu menampung mobilitas kendaraan besar jika Dapur tersebut mulai beroperasi.
Kekecewaan warga kian bertambah setelah menduga oknum RT & RW tidak mensosialisasikan pembangunan tersebut, ujug-ujug ada informasi tentang rekrutmen Tenaga Kerja atau Relawan SPPG akan tapi Perijinan belum mereka tempuh. Alih-alih memberdayakan warga masyarakat setempat.
Hingga kini, pihak pengelola belum memberikan klarifikasi resmi. Bangunan dengan spanduk “Badan Gizi Nasional” itu tampak tertutup rapat, tanpa aktivitas yang bisa diakses publik.
Warga menjelaskan mereka tidak menolak program Pemerintah. Namun, mereka menuntut transparansi kepatuhan terhadap aturan, serta jaminan bahwa lingkungan mereka tidak menjadi korban dari proyek tersebut.
“Pada dasarnya kami tidak keberatan dengan program Pemerintah, tapi pengelola di lapangan harus paham juga akan etika dan adab di lingkungan. Kalau sekiranya membahayakan lingkungan sekitar kami, ya kami akan bertindak.”Pungkasnya.

