Proses Pembentukan Stigma “Islam Sebagai Agama Teroris”

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Vina Fitrotun Nisa (Alumnus kajian ketahanan nasional universitas Indonesia)

Dalam membentuk opini publik, media sangat memiliki peran yang besar. Khususnya untuk kasus pembentukan stereotipe negatif terhadap islam.
Setelah serangan 11 September yang menghancurkan Pentagon, simbol dari kekuatan pertahanan Amerika dan gedung WTC. Amerika melakukan kampanye-kampanye melalui seminar-seminar dan melalui media masa untuk memerangi terorisme. Namun belakangan, justru Islam dibawa kedalam pencitraan negatif sebagai agama yang keras dan teroris.

Atribut-atribut keagamaan seperti lelaki berjenggot, penggunaan celana cingkrang dan penggunaan cadar bagi wanita kerapkali diasosiasikan sebagai ekstrimis muslim, dilecehkan dan langsung diberikan label negatif. Dalam kasus ini penulis berasumsi bahwa media sedikit banyak bertanggung jawab atas menggeneralisir dan membentuk persepsi publik kemudian dianggap benar oleh masyarakat.

Media kembali menguatkan apa yang telah terkonstruksikan didalam benak masyarakat sehingga hal itu tampak nyata di mata publik (Walter Lippman 1922) kampanye-kampanye yang dilakukan Amerika setelah serangan ke gedung WTC semakin pesat. Kampanye tersebut bahkan bukan hanya dilakukan oleh pihak agamawan saja. Namun juga terdapak tokoh intelektuan yang fokus dalam kajian Islam. Bahkan pernah suatu kali dalam wawancaranya di sebuah statsiun TV salah satu tokoh tersebut terkesan menyudutkan Islam. Misalnya seperti Ucapan Pator Jerry Fatwell, Pat Robenson dan Franklin Graham. Dalam sebuah wawancara Televisi, salah satu pastor Yakni Fatwell pernah menyatakan “Muhammad was a terrorist” dalam sebuah siaran televisi CBS dan dalam beberapa kesempatan Robertson menyebut “Muhammad a Robber and Brigand” dan juga Graham sering mengatakan “a very evil and wicked religion” (Bachtiar Effendy dan Mun’i A Sirri dalam tulisan Ekstrimisme Islam: bukan persoalan teologis atau penafsiran agama).

Ucapan-ucapan pimpinan keagamaan Amerika di media justru merurut hemat penulis mengandung beberapa unsur negatif. Yang pertama adalah pelecehan agama. dikatakan pelecehan karena mereka telah meremehkan dan menghina seseorang yang dikultuskan oleh ummat Islam. Yang diakui sebagai nabi. Sehingga dengan menyatakan statemen-statemen kebencian tersebut bukan malah menyelesaikan masalah, namun malah mengundang kembali reaksi negatif dari ummat Islam.

Kedua, telah terjadi ketidaksesuaian peran yang dilakukan pastor sebagai pimpinan agama yang seharusnya menyebarkan ucapan kebaikan. Dengan pembicaraannya justru seakan menyebarkan kembali sentimen negatif atau bahkan menumbuhkan kebencian terhadap Islam.

Ketiga, Karena disiarkan langsung oleh Televisi dan dikatakan oleh orang yang berpengaruh di Amerika, ucapan mereka justru akan menimpulkan respon dari masyarakat yang menyatakan pembenaran terhadap islam sebagai agama teroris, ahirnya publik meyakini bahwa benar islam adalah agama yang tidak menyukai peramaian.

(Faisal/tasikraya)

  • Bagikan