Melampaui dari Sekadar Didengar: Membaca Arah Baru Gerakan Kepemudaan di Kabupaten Tasikmalaya

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Andi Perdiana

Pemuda Kabupaten Tasikmalaya saat ini berada di persimpangan jalan yang menentukan. Di satu sisi, potensi yang dimiliki melimpah ruah—dari kreativitas ekonomi hingga semangat berorganisasi.

Di sisi lain, gerakan kepemudaan masih sering kali hanya menjadi wacana yang didengar sekilas, tanpa tindak lanjut nyata.

Sebuah pertanyaan mendesak perlu dilontarkan: Apakah suara dan gagasan pemuda Tasikmalaya sudah cukup sekadar didengar, ataukah sudah waktunya untuk melampaui itu semua menuju aksi nyata yang berdampak?

Belakangan ini, geliat kepemudaan di Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan tren yang menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan.

Namun, di balik itu semua, riset ilmiah justru menunjukkan bahwa implementasi kebijakan kepemudaan di daerah ini masih belum optimal.

Hambatan utama terletak pada komunikasi yang belum menjangkau seluruh organisasi kepemudaan, keterbatasan jumlah dan kapasitas sumber daya manusia, rendahnya komitmen sebagian pelaksana kebijakan, serta struktur birokrasi yang belum mendukung pelayanan yang cepat dan terpadu.

Ironi ini menjadi cermin bahwa sekadar menyusun program atau membuat kebijakan belum cukup. Tantangan nyata ada pada bagaimana menjembatani kesenjangan antara rencana dan realisasi.

Seperti yang disoroti dalam buku “Pemuda dalam Harmoni Spirit Sumpah Pemuda dan Politik Hukum Kepemudaan” (2025), ada disharmonisasi antara tujuan pembuat undang-undang dengan kesiapan pemuda sebagai subjek pembangunan, yang dalam konteksnya seolah-olah mereduksi kepentingan para pemuda-pemudi itu sendiri.

Di tengah situasi ini, muncul secercah harapan baru. Buku “Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi – Budaya dan Generasi Sosial” (2025) dari Oki Rahadianto Sutopo dan Elok Santi Jesica menawarkan tiga perspektif utama untuk membaca fenomena kepemudaan kontemporer—transisi, budaya kaum muda, dan generasi sosial—yang sangat relevan untuk memetakan posisi pemuda Tasikmalaya di tengah perubahan zaman.

Sementara itu, buku “Bapak Aing: Fenomena Kepemimpinan 5.0” (2025) mengajak kita membangun model kepemimpinan baru yang adaptif, berbasis nilai lokal namun berwawasan global, yang merupakan kebutuhan mendesak bagi para pemimpin pemuda di era Society 5.0 saat ini.

Apa yang bisa dilakukan pemuda Tasikmalaya untuk melampaui sekadar didengar? Pertama, transformasi dari partisipasi simbolik menuju partisipasi substantif.

Seperti yang diulas dalam buku “Pemilih Muda dan Masa Depan Demokrasi” (2025), dibutuhkan pendekatan berbasis komunitas, politik kreatif melalui seni dan budaya pop, serta pemanfaatan teknologi digital seperti gamifikasi dan kampanye melalui mikro-influencer untuk meningkatkan keterlibatan nyata pemuda dalam proses demokrasi.

Kedua, penguatan kapasitas kepemimpinan yang berakar pada kepedulian dan kemanusiaan. Dalam buku “The Art of Caring Leadership” (2026) mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang posisi atau kontrol, melainkan praktik kehadiran, hubungan manusia, dan fondasi kepedulian yang membangun kepercayaan serta kinerja organisasi.

Bagi para penggerak pemuda Tasikmalaya, ini menjadi modal penting untuk membangun gerakan yang autentik dan berkelanjutan. Ketiga, pemberdayaan ekonomi kreatif dan kewirausahaan pemuda.

Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi besar di sektor pertanian, UMKM, ekonomi kreatif, serta industri berbasis kearifan lokal.

Namun, masih ada kesenjangan antara melimpahnya bakat dengan terbatasnya wadah yang representatif, Maka Langkah strategis ke depan, seluruh elemen kepemudaan harus memastikan bahwa Peraturan Daerah Kepemudaan yang telah ditetapkan Kab Tasikmalaya (Perda No. 2 Tahun 2021) benar-benar diimplementasikan dengan baik.

Organisasi kepemudaan seperti KNPI dan Organisasi Kepemudaan lainnya perlu memperkuat kolaborasi lintas lembaga, memperluas program literasi dan pemberdayaan kader, serta merespons tantangan sosial seperti krisis moral, kenakalan remaja, dan kesenjangan sosial yang masih membayangi.

Penutupnya, suara pemuda Tasikmalaya kini tidak lagi cukup hanya didengar. Era menuntut mereka untuk melampaui itu semua—menjadi aktor perubahan yang menentukan arah pembangunan daerah.

Dengan membaca dinamika melalui perspektif kritis, membangun kepemimpinan berbasis kepedulian, dan mewujudkan gagasan dalam tindakan nyata, pemuda Tasikmalaya bisa mengubah posisi dari sekadar objek pembangunan menjadi subjek yang menentukan masa depan mereka sendiri.

Karena pada akhirnya, seperti spirit Sumpah Pemuda, gerakan sejati bukanlah tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling tulus bergerak. Sudah saatnya pemuda Tasikmalaya melampaui sekadar di dengar.

  • Bagikan