Ekonomi Kelautan & Geopolitik: Peran Indonesia di Samudra Hindia & Pasifik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Tasikmalaya, tasikraya.com
Sebagai Negara Kepulauan terbesar didunia, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis secara Geografis.

Dikelilingi oleh lebih dari 17.000 Pulau dan terletak diantara dua Samundra besar yaitu Hindia disebelah Barat dan Fasifik disebelah Timur Indonesia berapa dijantung jalur Pelayaran Internasional yang menghubungkan Asia, Afrika, Australia.

Posisi ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai Geopolitik. Dalam konteks globalisasi dan rivalias kekuatan besar dikawasan Indo pasifik, peran Indonesia menjadi semakin penting.

Negara ini dituntut untuk memperkuat posii strategisnya melalui pemanfaatan potensi ekonomi kelautan.

Sector kelautan mencakup berbagai Bidang seperti Perikanan, Pelayaran, Energi Laut, Pariwisata Bahari, hingga industry maritime.

Potensi besar ini tidak hanya berdampak pada pembangunan ekonomi Nasional, tetapi juga menjadi instrument dalam memeperkuat pengaruh geopolitik Indonesia di Kawasan strategis.

Hubungan antara dua variable ekonomi kelautan sebagai kekuatan Ekonomi Sosial dan Geopolitik sebagai pengaruh Politik dan strategi Luar Negeri.

Secara Teoretis hubungan antara Ekonomi dan Geopolitik telah lama dibahas dalam berbagai teori klasik, salah satunya oleh Alfred Thayer Mahan dalam bukunya The influence of sea power upon history 1890.

Mahan menegaskan bahwa kekuatan suatu Negara dilaur (sea power) ditentukan oleh kemampuan dalam menguasai Perdagangan Maritime, Armada Laut, dan Pangkalan Pelabuhan strategis.

Kekuatan Ekonomi Maritime suatu Negara memiliki korelasi langsung dengan pengaruh Politik dan Militernya dikawasan Internasional.

Teori Mahan ini relevan untuk memahami posisi Indonesia saat ini. Sebagai Negara Kepulauan yang berada di tengah jalur strategis Indo-Pasifik, Indonesia dapat memperkuat posisi Geopolitiknya melalui pembangunan ekomoni kelautan yang tangguh.

Dengan memperkuat sektor Pelabuhan, Armada Perikanan, dan konektivitas Maritime, Indonesia bukan hanya meningkatkan pendapatan Nasional, tetapi juga meningkatkan Daya tawar politik dihadapan kekuatan besar Dunia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Indihia, dan Australia.

Dalam merespons perubahan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, posisi strategis Indonesia tidak semata-mata didasarkan pada keunggulan Geografis, tetapi juga pada arah kebijakan Luar Negerinya. (1*, 2024).

Sebagai Negara kepulauan terbesar di Dunia dengan wilayah Laut yang luas, Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam konstelasi geopolitik Indo-Pasifik.

Letak Geografisnya yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, ditambah peran sentralnya di ASEAN sebagai kekuatan informal di Asia Tenggara, menjadikan Indonesia aktor kunci dalam menjaga stabilitas kawasan.

Dalam peran strategis ini, Indonesia berkepentingan untuk sekaligus menjaga stabilitas regional dan memastikan integritas kedaulatan nasional Dalam konteks rivalitas global yang terus berkembang, Indonesia dihadapkan pada dua tantangan utama.

Pertama, menjaga hubungan konstruktif dengan kekuatankekuatan global guna memastikan akses terhadap investasi dan kepentingan ekonomi. Kedua, menjaga komitmen pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, sekaligus memosisikan diri sebagai penyeimbang dalam dinamika kekuatan kawasan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana Indonesia merancang langkahlangkah strategis dalam menghadapi dinamika Indo-Pasifik. (Choiru, 2021).

Pendekatan klasik diwakili oleh teori Rimland dari Nicholas J. Spykman. Tidak seperti gagasan Heartland oleh Mackinder yang menekankan dominasi daratan sebagai pusat

kekuasaan global, Spykman menggarisbawahi pentingnya wilayah pesisir-yang ia sebut Rimland-sebagai kunci pengaruh geopolitik (Yanto Rosmawandi, 2022).

Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masuk dalam kawasan Rimland karena memiliki posisi strategis sebagai jalur pelayaran global dan wilayah yang menjadi persimpangan berbagai kepentingan internasional.

Dalam kerangka ini, posisi geografis Indonesia memberikan nilai strategis tinggi, menjadikannya pihak yang tidak bisa dilepaskan dari rivalitas kekuatan besar dunia.

Kedua, pendekatan geopolitik kritis sebagaimana dikembangkan oleh Gearóid Ó Tuathail (Gerard Toal) memandang geopolitik tidak hanya sebagai persoalan spasial dan dominasi kekuasaan, melainkan sebagai hasil konstruksi wacana yang dibentuk oleh negara dan aktor-aktor sosial lainnya, termasuk media (Yanto Rosmawandi, 2022).

Pendekatan ini menelaah bagaimana narasi-narasi tentang ancaman, kemitraan strategis, dan identitas politik dibentuk untuk membenarkan kebijakan luar negeri tertentu. Dalam konteks ini, respons Indonesia terhadap konsep Indo-Pacific maupun inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) dapat dipahami sebagai bagian dari proses negosiasi identitas politik dan konstruksi makna yang tidak terlepas dari ideologi (Faslah, 2024).

Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menciptakan tekanan geopolitik sekaligus peluang bagi Indonesia untuk tampil sebagai aktor penyeimbang serta pelopor stabilitas regional.

Dengan menjalankan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia berupaya menjaga jarak dari keterlibatan dalam konflik kekuatan besar, sambil tetap mendorong jalur diplomasi, memperkuat kerja sama multilateral, dan menegakkan hukum internasional.

Program seperti Poros Maritim Dunia dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) mencerminkan strategi konkret dalam menjaga kepentingan nasional sekaligus membangun tatanan kawasan yang bersifat terbuka dan kooperatif.

Selain itu, langkah-langkah seperti modernisasi sistem pertahanan, penguatan kapabilitas maritim, serta keikutsertaan aktif dalam berbagai forum internasional menjadi elemen penting dalam menopang posisi geopolitik Indonesia.

Kedepan, diperlukan strategi yang lebih adaptif dalam menghadapi tantangan baru seperti krisis iklim, ancaman digital lintas batas, dan perkembangan teknologi militer. Dengan pendekatan yang damai, inklusif, serta berlandaskan kepentingan nasional dan regional jangka panjang, Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari percaturan geopolitik Indo-Pasifik, tetapi juga tampil sebagai pengarah yang berperan aktif dalam menciptakan stabilitas dan tata kawasan yang berkelanjutan. (Shabil, 2025)

Indonesia Sebagai Kunci Stabilitas dan Kekuatan Maritim di Jantung Indo-Pasifik, Secara keseluruhan, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di persimpangan dua samudra (Hindia dan Pasifik) menempatkannya pada poros geopolitik yang tak terhindarkan.

Dokumen ini secara tegas menyimpulkan bahwa nilai strategis Indonesia tidak lagi semata-mata bersifat geografis, tetapi harus dimanfaatkan secara aktif melalui penguatan ekonomi kelautan yang tangguh.

Mengadopsi prinsip Mahan, kekuatan maritim Indonesia-yang mencakup perikanan, pelayaran, energi laut, dan industri-berkorelasi langsung dengan daya tawar politiknya di kancah global.

Pembangunan sektor-sektor ini, yang tercermin dalam agenda Poros Maritim Dunia (PMD), merupakan instrumen geopolitik untuk meningkatkan pendapatan nasional sekaligus mendongkrak pengaruh di hadapan kekuatan-kekuatan besar dunia (AS, Tiongkok, India).

Dalam konteks dinamika Indo-Pasifik, Indonesia, sebagai bagian dari kawasan Rimland, dihadapkan pada tekanan rivalitas global yang terus meningkat.

Untuk menjaga kepentingan nasional dan integritas kedaulatan, Indonesia dituntut untuk mengimplementasikan politik luar negeri bebas dan aktif yang adaptif. Strategi ini bukan hanya sekadar menjaga jarak, melainkan memosisikan diri sebagai aktor penyeimbang dan pelopor stabilitas regional.

Hal ini dibuktikan melalui inisiatif seperti ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dan diplomasi gencar di berbagai forum regional (ARF, AMF, IORA) dan multilateral (PBB).

Pada akhirnya, kesimpulan sentralnya adalah bahwa peran Indonesia melampaui sekadar penerima dampak dari pergeseran geopolitik. Melalui diplomasi keamanan maritim yang terfokus pada maritime safety, security, dan defense, Indonesia bertujuan untuk lebih gencar mendorong terbentuknya rezim internasional atau aturan pengelolaan konflik maritim.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi bagian penting dalam percaturan geopolitik kawasan, tetapi memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pengarah yang berperan aktif dalam menciptakan tatanan kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, kooperatif, dan berkelanjutan. Keberhasilan memaksimalkan potensi ekonomi kelautan akan menjadi fondasi utama bagi Indonesia untuk memainkan peran global yang lebih signifikan.

NAMA: YULY JULIANTI
NPM: 233507021
KELAS: A
MATA KULIAH: GEOPOLITIK INDONESIA

  • Bagikan