Polemik Pembangunan Trotoar di Jalan HZ dan Cihideung, Ini Jawaban Pemkot Tasikmalaya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Tasikmalaya- Masyarakat Kota Tasikmalaya sedang ramai memperbincangkan wacana pembangunan Pedestrian (jalur pejalan kaki) dari HZ Musthofa sampai Cihideung yang sudah mulai tahap pembangunan pada bulan Juli ini.

Proyek pedestrian tersebut menuai pro dan kontra dari masyarakat sekitar khususnya bagi pemilik toko dan pedagang kaki lima di sekitar lokasi. Karena, jalur yang biasa dipakai berjualan mereka terhambat bahkan tertutup.

Diketahui dari informasi papan proyek untuk penataan Jalan HZ Mustofa dialokasikan mencapai anggaran Rp 4,4 Milyar. Lalu, untuk penataan di Jalan Cihideung Rp 5 Milyar lebih. Pengerjaanya sudah dimulai hari Minggu lalu, (17/7/2022).

Konsep Pedestrian Kota Tasikmalaya tersebut memunculkan banyak respon keberatan dan komplain dari pemilik toko dan PKL. Karena dengan dibangunnya jalur pedestrian akan menghambat jalur distribusi barang yang biasa berjalan, sehingga para pelaku ekonomi di sepanjang jalan HZ Musthofa sampai Cihideung akan dirugikan.

Tasikraya melakukan konfirmasi langsung kepada Drs. H. Tedi Setiadi, M.Pd sebagai asda II sekaligus Ketua Tim Koordinator Penataan dan Pembinaan PKL (ralat : sebelumnya disebut Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Kota Tasikmalaya) di Dishub Kota Tasikmalaya, Kamis Siang (21/7/2022).

Saat disinggung terkait minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh Pemkot Tasikmalaya kepada para pelaku usaha dan PKL, Tedi mengatakan pihaknya sudah melakukan beberapa sosialisasi.

“Kita menerima masukan itu, kita sudah masukan kepada pimpinan, tetapi kata pak wali masyarakat, pemilik toko masih bisa jalan akses keluar mobil dan motor.”Ucapnya.

Menurutnya, sekarang dari Dinas PUTR Kota Tasikmalaya sedang melaksanakan pembangunan, kemudian dirinya juga sudah menanyakan hal tersebut kepada pihak Dinas Indag yang sedang melakukan pemutakhiran data terkait PKL yang ada di sana.

“Sekarang lagi masa pendataan, waktu dulu kita merekomendasikan PKL di Shelter Dadaha dan Cilembang. Tetapi para PKL menolak, kita tidak terserah di mana-mana, tetapi kita memberikan alternatif bagi para PKL.”Ujarnya.

Mereka juga, kata Tedi, ada yang meminta dan ada juga menempatkan diri sendiri yaitu keinginannya di tempat yang dekat dari seputaran Cihideung dan HZ Mustofa.

Ia mengatakan, setelah pembangunan sesuai dengan desain PUPR, nantinya akan disediakan both-both bagi para pedagang kaki lima yang sudah disiapkan oleh Dinas Indag Kota Tasikmalaya.

“Untuk bentuk rupa Both itu sedang disimulasikan dan sedang disesuaikan dengan jumlah PKLnya.”Papar dia.

Tedi Setiadi mengatakan pihaknya juga sudah duduk bersama dengan Kepala Dinas Indag untuk menaikan kelas PKL yang ada di Kota Tasikmalaya, khususnya yang ada di HZ Mustofa dan Cihideung agar lebih berdaya dan lebih bagus. Karena tanggungjawab untuk pemberdayaan dan pembinaan bagi PKL itu ada di Dinas Indag.

“PKL di HZ dan Cihideung akan dikembalikan ke tempat asalnya. Bukan seperti kondisi sekarang dagang di Both-both itu. Jadi tidak ada relokasi PKL, kita dari awal tidak ada berbicara tentang relokasi mereka.”Tegasnya.

 

(Rizky/tasikraya)

  • Bagikan