Tasikmalaya, tasikraya.com-
Keindahan Pesisir Selatan Pangandaran selama ini menjadi magnet Wisata alam yang tak pernah kehilangan pesonanya.
Deburan ombak Samudera Hindia, hamparan Pasir Pantai, serta Panorama Laut lepas menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi unggulan di Jawa Barat.
Akan tetapi, di balik panorama eksotis tersebut, tersimpan kekhawatiran besar mengenai keberlangsungan hidup Penyu yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari ekosistem Laut Selatan Jawa.
Kawasan Pantai Batu Hiu yang dikenal sebagai Objek Wisata Favorit kini juga menjadi wilayah yang menghadapi ancaman berkurangnya populasi Penyu akibat berbagai faktor.
Mulai dari perburuan liar, Perdagangan Telur dan Daging Penyu, rusaknya habitat bertelur, hingga rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya konservasi menjadi penyebab utama Satwa laut tersebut semakin terancam.
Padahal, keberadaan Penyu memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Penyu berperan menjaga kesehatan padang lamun dan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota Laut lainnya.
Jika populasi Penyu terus menurun, maka keseimbangan ekosistem Laut pun akan terganggu.
Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pelaku industri Pariwisata. Salah satunya datang dari Katara Tour, agen perjalanan asal Kota Tasikmalaya yang mulai mengembangkan konsep Wisata edukasi konservasi sebagai bagian dari gerakan Pariwisata berkelanjutan.
Founder Katara Tour, Ervan Kurniawan menilai Wisata saat ini tidak lagi hanya soal hiburan semata. Menurutnya, Wisata juga harus mampu memberikan nilai edukasi sekaligus kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan.
Sebagai alumni National Hotel Institute Bandung tahun 2001, Ervan melihat tren Wisata alam dan Ekowisata semakin diminati Wisatawan Domestik maupun Mancanegara.
Karena itu, menurutnya pelaku usaha Wisata harus mulai membangun konsep perjalanan yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
“Katara berkomitmen untuk Pariwisata berkelanjutan, dan mengajak semua komponen termasuk Wisatawan yang menggunakan jasa Katara untuk menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dengan cara memasukkan aktivitas yang berkaitan dengan konservasi.”Ucap Ervan kepada tasikraya.com, Kamis (14/5/2026).
Salah satu bentuk nyata konsep tersebut diwujudkan melalui paket wisata edukasi konservasi Penyu di kawasan Pangandaran.
Dalam perjalanan wisata itu, para wisatawan diajak mengunjungi lokasi konservasi penyu untuk mengenal lebih dekat kehidupan Satwa Laut yang kini terancam punah.
Bukan hanya sekadar melihat Penyu, wisatawan juga diajak memahami proses konservasi, ancaman terhadap habitat Penyu, hingga pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem Laut.
Salah satu lokasi yang menjadi bagian dari wisata edukasi tersebut adalah Raksa Bintana, Rumah konservasi Penyu yang berlokasi di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Di tempat ini, wisatawan disuguhkan pengalaman berbeda dibanding wisata pada umumnya. Mereka dapat melihat langsung proses perawatan Penyu, memahami bagaimana telur-telur Penyu dijaga hingga menetas, sampai proses pelepasan tukik ke alam bebas.
Wisatawan yang beruntung bahkan bisa menyaksikan secara langsung pelepasan tukik ke lautan ketika anak-anak Penyu tersebut dinyatakan siap bertahan hidup di habitat aslinya.
Sensasi inilah yang menurut banyak wisatawan menjadi pengalaman emosional dan edukatif yang sulit dilupakan.
Selain itu, wisatawan juga memiliki kesempatan untuk berswafoto dengan beberapa ekor Penyu yang sedang dirawat di area konservasi. Saat ini spesies Penyu yang dirawat di rumah konservasi tersebut di dominasi jenis Penyu hijau dan Penyu sisik.
Pengelola konservasi Penyu Raksa Bintana, Kurdy (48), menyambut baik konsep wisata edukasi yang dikembangkan Katara Tour Tasikmalaya.
Menurut Kurdy, keterlibatan pelaku industri wisata dalam kegiatan konservasi menjadi hal penting untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian lingkungan.
“Kami sangat menyambut baik konsep wisata edukasi yang dilakukan Katara Tour. Ini bagus karena wisatawan bukan hanya datang untuk berlibur, tetapi juga belajar tentang pentingnya menjaga penyu dan ekosistem laut.”Jelas Kurdy.
Ia mengatakan, Rumah konservasi Penyu miliknya sejak awal memang dibangun sebagai tempat edukasi terbuka bagi masyarakat umum.
Karena itu, pihaknya tidak pernah memasang tarif masuk khusus kepada pengunjung yang datang.
“Kami dibayar para pengunjung secara sukarelawan, istilahnya mereka berdonasi untuk kami.”Tegas Kurdy.
Menurutnya, dukungan dari wisatawan melalui donasi sangat membantu operasional konservasi, mulai dari perawatan Penyu, pemeliharaan kolam, hingga penyelamatan telur Penyu dari ancaman predator maupun aktivitas manusia.
Kurdy menjelaskan, konservasi Penyu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, serta biaya yang tidak sedikit untuk menjaga keberlangsungan hidup penyu hingga akhirnya bisa dilepas kembali ke habitat alaminya.
Selain menjadi tempat wisata edukasi, rumah konservasi Penyu Raksa Bintana juga sering dijadikan lokasi penelitian oleh Mahasiswa dan Akademisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Kurdy, banyak Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun peneliti Kampus yang datang untuk mempelajari kehidupan Penyu dan ekosistem pesisir.
“Kami banyak kehadiran mahasiswa ataupun peneliti dari sejumlah kampus perikanan di Indonesia. Dari Palembang, Sumatera dan Sulawesi pernah ke sini untuk meneliti penyu tersebut.”Jelasnya.
Kehadiran para Mahasiswa dan peneliti tersebut menurutnya menjadi bukti bahwa konservasi Penyu memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari aspek Pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap pelestarian penyu agar keberadaan satwa laut tersebut tetap terjaga di masa mendatang.
Bagi para wisatawan yang mengikuti program wisata edukasi bersama Katara Tour, kegiatan pelepasan tukik menjadi salah satu momen paling berkesan.
Tour leader Barirosdi Amrulloh mengatakan pelepasan tukik bukan sekadar agenda tambahan dalam perjalanan wisata, melainkan simbol komitmen bersama menjaga kelestarian alam.
“Program edukasi wisata konservasi ini salah satu bentuk tanggung jawab para pengusaha atau pelaku bisnis pariwisata untuk ikut andil dalam pelestarian penyu. Karena ini untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut.”Papar Barirosdi.
Ia menambahkan, setiap tukik yang dilepas ke laut membawa harapan baru terhadap keberlangsungan kehidupan laut di masa depan.
“Release Penyu ini dilakukan dengan wisatawan itu sebagai simbol untuk komitmen kita dengan klien dan perusahaan menjaga keberlangsungan ekosistem. Harapannya penyu-penyu yang di-release ini akan terus berkembang sebagaimana perusahaan yang kita jalani juga ikut berkembang.”Tuturnya.
Konsep wisata edukasi konservasi tersebut mendapat respons positif dari para wisatawan. Salah satunya disampaikan Lingga Ikaditia yang mengaku puas dengan pengalaman wisata yang disajikan Katara Tour.
Menurut Lingga, konsep wisata berbasis edukasi lingkungan masih sangat jarang ditemukan dalam industri Pariwisata saat ini.
“Saya sangat senang dengan konsep wisata edukasi ini, dan yang sangat saya apresiasi konsep ini jarang sekali saya temukan. Ini adalah sebuah konsep yang menarik yang memiliki value untuk kelanjutan pariwisata Indonesia.”Ungkap Lingga.
Ia berharap semakin banyak pelaku usaha wisata yang mulai menerapkan konsep serupa agar sektor Pariwisata Indonesia dapat berkembang tanpa merusak lingkungan.
Di tengah meningkatnya ancaman terhadap lingkungan laut, langkah kecil yang dilakukan berbagai komunitas konservasi dan pelaku wisata seperti Katara Tour dan Raksa Bintana menjadi harapan penting bagi keberlangsungan ekosistem laut Indonesia.
Konsep wisata edukasi konservasi menunjukkan bahwa industri Pariwisata sebenarnya dapat berjalan berdampingan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Karena pada akhirnya, menjaga Penyu bukan hanya soal melindungi satu spesies satwa laut semata, tetapi juga menjaga keseimbangan alam, keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir, dan masa depan Pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

