Perang Dagang AS–Cina, Apa Kabar Perekonomian Indonesia?

  • Bagikan
banner 468x60

Dalam kamus ekonomi bahwa perang dagang merupakan konflik ekonomi yang diwujudkan dengan pemberlakuan kebijakan pembatasan impor antar-negara. Pembatasan impor tersebut antara lain dengan meningkatkan bea masuk barang, melarang barang tertentu diimpor, membuat standard barang yang masuk menjadi lebih tinggi, barang tertentu harus diuji lagi dan mendapat sertifikasi tambahan. Dan perang dagang juga termasuk dalam bentuk perang asimetris, perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra -geografi, demografi, dan sumber daya alam- dan pancagatra -ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya-. Perang asimetri selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang. (Badan Riset Nasional, BRN) perang dagang berada dalam kategori Perang nirmiliter karena dinilai sebagai model perang tidak lazim – nonmiliter – bahkan dalam praktik operasionalnya cenderung non-kekerasan. Spektrum sasarannya lebih luas daripada perang konvensional sebab mencakup segenap aspek kehidupan. Strategi Neo-Kolonialisme, justru perang non-militer sekarang dinilai sebagai metode favorit para adidaya dalam rangka menancapkan kuku pengaruh dan kolonialismenya di negaranegara yang jadi target penaklukkan.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China berawal ketika Amerika Serikat mengalami defisit. Defisit yang kian naik itu akhirnya membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kebijakan penetapan bea masuk impor produk asal China. Kebijakan oleh Presiden Donald Trump ini memicu ketegangan antar kedua negara yang sampai sekarang masih tercatat sebagai negara yang menguasai pertumbuhan ekonomi dunia. Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump direspon oleh China dengan penerapan tarif yang lebih tinggi atas impor Amerika Serikat (Aldia, 2020). Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kian memanas pastinya menimbulkan pertumbuhan ekonomi global terhambat. Amerika Serikat memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap China, sebagai respon terjadinya ketidakseimbangan perdagangan antar-kedua negara. China pun menerapkan pungutan yang lebih tinggi atas impor Amerika Serikat.

Perang Dagang AS vs China

Pada awal januari 2018 Amerika Serikat membemabankan tarif pada panel surya dan mesin cuci. Meskipun tidak ditujukan secara khusus, tetapi china merupakan pengekspor panel surya. kemudian Pada bulan maret Amerika Serikat melakukan tarif 25% intuk impor baja dan 10% untuk alumunium. Dan ini mempengaruhi terhadap Uni siviet, meksiko, kanada serta china. Setelah hal itu terjadi china merespon dengan tarif $3 M dari impor Amerika serikat yang mempengaruhi 128 produk termasuk jeruk, anggur, babi, dan alumunium.

Ronde Pertama

6 juli 2018 mulai diberlakujan tarif 25% untuk impor china senilai $34 M termasuk mesin, peralatan konstruksi dan elektronik.(bagian 1 dari putaran tarif $50 Miliar). Selanjutnya, pada 23 agustus mulai diberlakukan tarif 25% untuk impor china senilai $16M, termasuk gerbong dan beberapa komponen elektronik. Bagian 2 dari ouratan tariff $50 Miliar kemudian china membalas dengan tariff impor $50 Miliar.

 Ronde Kedua

Keputusan Amerika serikat untuk mengenakan tariff atas impor china senilai $200 M diumumkan. Tarif baru mulai dikenakan pada  24 September. Berbagai barang dari tas tangan hingga sarung tangan bisbol, tariff dimulai pada 10% dan membengkat ke 25% pada awal januari. Kemudian china membalas dengan tariff barang-barang amerika serikat senilai $60 Milyar, juga pada 24 Semtember.

Ronde Ketiga ($267 Miliar)

Trump mengatakan jika china membalas, dia akan menyasar barang berharga china senilai $2.67 Miliar dengan tariff. Ini akan membawa total peningkatan tarif amerika serikat yang ditunjuk atas komoditas china hinga $517 Miliar dengan kata lain, semua barang china dijual di amerika

Pengaruh Perang Dagang AS-China Terhadap Perekonomian Dunia

Perang dagang menyebabkan ativitas ekspor dan impor di dunia menurun drastic, hal ini disebabkan oleh perang tariff yang dilakukan oleh AS dan China. Selain itu juga pengaruh perang dagang ini menyebabkan kegiatan eokonomi menjadi anjlok akibat aktivitas ekspor dan impor yang menurun drastic serta mengakibatkan dunia terancam resesi dengan anjloknya produksi dan pengolahan .

Pengaruh Perang Dagang AS-China Terhadap Perekonomian Indonesia #1

Perang dagang berpengaruh terhadap Ekspor komoditas Indonesia ke AS dan China menurun, selain itu Indonesia bisa dibanjiri oleh produk AS dan China serta menyebabkan deficit neraca perdagangan Indonesia semakin besar.

Pengaruh Perang Dagang AS-China Terhadap Perekonomian Indonesia #2

Tinginya tariff yang dikenakan oleh AS terhadap produk China para pengusaha pun terpaksa melirik Negara lain yang tidak terlibat perang dagang untuk merelokasikan investasi mereka. Indonesia berpeluang menjadi salah satu Negara pilihan bagi pengusaha untuk merelokasikan investasi mereka, namun untuk memenagkan hati investor, Indonesia harus bersaing dengan Negara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam dan India.

Penulis: Maulana Yusuf-Peserta Advance Training LK-III Badko HMI Riau/Kepri

  • Bagikan