Aksi Solidaritas Mahasiswa, Untuk Mahasiswa Yang Gugur Dalam Aksi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Tasikmalaya – Aksi September kelam, yang digelar oleh Sejumlah mahasiswa, pelajar dan komunitas Tasikmalaya sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan terhadap para mahasiswa dan pelajar yang gugur dalam unjuk rasa penolakan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dan rancangan undang-undang sepihak, yang berlangsung di Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Selasa, (01/10/ 2019).

Jaka Pria Purnama selaku koordinator kegiatan menuturkan, aksi tersebut merupakan aksi kemanusiaan, yang diberi tajuk September kelam.

“Kita fokus pada aksi humanisme atau kemanusiaan untuk kawan-kawan yang gugur karena berjuang untuk kepentingan rakyat, Aksi ini diberi tajuk September kelam lantaran sejumlah peristiwa muram yang terjadi di bulan itu seperti kasus asap dan pembakaran hutan, kematian pelajar dan mahasiswa serta tindakan represif aparat kepada mahasiswa, ” kata Jaka di lokasi kegiatan, Selasa sore.

Jaka mengharapkan kepada aparat tidak melakukan tindakan represif, karena mahasiswa adalah agent of change atau agen perubahan yang membawa aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

“Jangan ada lagi aparat melakukan tindakan represif kepada kami, bahkan menjalar ke kampus-kampus melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengancam memberikan sanksi kepada para rektor yang dianggap menggerakan unjuk rasa mahasiswa”.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bode Riswadi selaku Dosen Universitas Siliwangi, ia mengaku terpanggil dengan persoalan kemanusiaan tersebut, dan mempertanyakan, para akademisi atau dosen yang tidak tersentuh jiwanya terhadap peristiwa itu.

“Kita hadir di sini karena ada kawan-kawan kita yang tertembak di Kendari, Jakarta, Kalau ada dosen tidak (terpanggil) karena kasus kemanusiaan, pertanyakan gelarnya dari mana didapatkan, ungkap Bode.

Mahasiswa yang hadir berasal dari sejumlah pergurun tinggi di Kota Tasikmalaya seperti Universitas Siliwangi, Universitas Perjuangan, STIA, Poltekkes, dan Stikes BTH. Mereka membaca doa bersama, tabur bunga, pembacaan puisi, serta aksi teatrikal.

(ijul/tasikraya)

  • Bagikan