Hampir Sebulan Jalan Dadaha di Tutup Forsil Rt/Rw Tasikmalaya Soroti Dampak Lalu Lintas

  • Bagikan
banner 468x60

Tasikmalaya, tasikraya.com
Penutupan jalan utama Kawasan Dadaha telah berlangsung hampir satu bulan, kini menjadi perhatian serius Forum Silaturahmi RT/RW (FORSIL RTRW) Tasikmalaya.

Kondisi jalan utama Dadaha dinilai telah memberikan dampak terhadap efektivitas mobilitas masyarakat, khususnya para pengguna jalan yang sehari-hari melintasi kawasan tersebut.

Ketua FORSIL RT/RW Tasikmalaya, Deden Tazdad Hubban mengatakan penutupan akses jalan utama oleh Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya bersama UPTD Dadaha perlu diaktivasi kembali. Terutama evaluasi dari sisi rekayasa lalu lintas yang tidak logis, kenyamanan pengguna jalan, serta aspek keselamatan masyarakat.

Menurut Deden, ketika akses utama ditutup dalam waktu yang cukup lama, masyarakat secara otomatis mencari jalur alternatif.

Salah satunya, dampak ini terlihat dari semakin banyaknya pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat yang memanfaatkan jalan Gelanggang Generasi Muda (GGM) dan area/lahan parkir Gedung Creative Centre (GCC) sebagai jalur perlintasan.

“Penutupan jalan utama tentu memiliki konsekuensi terhadap pola pergerakan masyarakat. Ketika jalur utama ditutup, pengguna jalan akan mencari alternatif, maka yang muncul adalah kesemrawutan, potensi konflik antar-pengguna jalan dan persoalan keselamatan.”Tegas Deden Tazdad Hubban, Rabu (16/9/2026).

FORSIL RT/RW Tasikmalaya menilai kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Penggunaan area yang pada dasarnya bukan merupakan jalur lalu lintas utama sebagai akses kendaraan secara terus-menerus berpotensi menimbulkan persoalan baru, terlebih apabila terjadi pertemuan arus kendaraan, aktivitas parkir, maupun pergerakan pejalan kaki di kawasan tersebut.

Deden Tazdad meminta Pemerintah Kota Tasikmalaya, khususnya Walikota Tasikmalaya beserta jajaran terkait, untuk segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan penutupan jalan tersebut.

Ia menyebutkan masyarakat membutuhkan kepastian mengenai rekayasa lalu lintas, jalur alternatif, durasi penutupan, serta langkah konkret untuk memastikan keselamatan pengguna jalan.

“Kami meminta Walikota Tasikmalaya dan seluruh anggota DPRD Kota Tasikmalaya jangan diam dan jangan menunggu sampai terjadi kecelakaan baru kemudian bertindak. Keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan yang berkaitan dengan akses dan lalu lintas.”Ujar Deden.

FORSIL RT/RW Tasikmalaya juga mendorong adanya koordinasi terbuka antara Pemerintah Kota, Dinas Perhubungan, pengelola kawasan Dadaha, aparat terkait, serta masyarakat sekitar untuk mencari solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan penutupan jalan, tetapi juga mencegah munculnya titik rawan baru.

Lanjut Deden, evaluasi di lapangan perlu dilakukan secara langsung dengan melihat kondisi lalu lintas pada jam-jam sibuk. Rekayasa lalu lintas juga harus mempertimbangkan keselamatan seluruh pengguna jalan, baik pengendara roda dua, roda empat, pejalan kaki, maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Dadaha.

“Jangan sampai masyarakat dipaksa beradaptasi sendiri terhadap perubahan arus lalu lintas tanpa adanya pengaturan yang jelas. Pemerintah hadir untuk memastikan setiap kebijakan memberikan rasa aman dan tertib bagi masyarakat.”Pungkasnya.

  • Bagikan