Kota tasikmalaya – Pemerintah pusat mewaspadai penyebaran virus corona dengan melakukan sejumlah langkah antisipatif sejak bulan Februari. Impor Produk Holtikultura dari Cina dihentikan, Kamis (12/03/2020).
Hasil diskusi anggota DPRD Kota Tasikmalaya, H. Murjani., SE., MM dengan Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya bahwa dengan kasus Corona juga akan berpengaruh pada konsumsi Produk Holtikultura.
“Produksi Kota Tasikmalaya tidak mencukupi sehingga harus mendatangkan dari luar daerah” ucapnya.
Seperti Data Tahun 2019 untuk Beras masih kekurangan 16,3 ton, daging sapi kurang 1,6 ton, daging ayam kurang 1,9 ton; telur ayam ras kurang 3,9 ton, cabe merah 3,1 ton, cabe rawit kurang 5,4 ton, bawang merah kurang 1,6 ton, bawang putih kurang 1 ton dan khusus bawang merah dan putih ini 100% mendatangkan dari luar Kota Tasikmalaya.
Kalau kita lihat bahwa kekuatan produksi bawang putih dalam negeri hanya 10% dan 90% Indonesia import. Jadi, dengan kasus Corona dan penghentian import maka Kota Tasikmalaya bisa meningkatkan produksi pertanian.
“Saya sudah diskusikan dengan beberapa PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) bagaimana terkait kondisi tanah di Kota Tasikmalaya terkait tanaman apa yang cocok untuk tanaman komoditas pertanian” terangnya.
H. Murjani menambahkan menurut Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan belum ada pemetaan tanah sehingga menjadi penyebab kurang maksimalnya hasil pertanian dan kalah bersaing dengan produk import.
“Hasil diskusi ini harus cepat dilaksanakan, agar bisa meningkatkan hasil pertanian yang memiliki kualitas bagus sehingga bisa meningkatkan perekonomian petani” jelasnya.
H. Murjani, SE., MM. memberikan saran ni adalah Pertama, Ahli pertanian yang sudah bisa menggunakan teknologi untuk menghasilkan bibit unggul sehingga hasil pertanian memiliki kualitas bagus dan bisa meningkat.
Kedua, Adanya Konsultan Pertanian untuk melihat kondisi tanah untuk meningkatkan hasil pertanian. Ketiga, Demontration Plot sebagai metode penyuluhan pertanian kepada petani dengan cara membuat lahan percontohan agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang di demontrasikan dan dicontoh.
Dengan didukung 3 hal di atas maka petani harus mendapat keuntungan dan tidak mengandalkan hasil pertaniam dari luar.
(Rizky/tasikraya)
