Tasik Raya

Tema Kritik Kekuasaan Musisi Solois Tasikmalaya Rilis Lagu Singgasana

Tasikmalaya, tasikraya.com
Musisi Solois asal Tasikmalaya, Tjepi, kembali menghadirkan karya terbarunya bertajuk “Singgasana”, sebuah lagu yang membawa tema kritik sosial tentang kekuasaan, janji, kenyataan hidup rakyat, serta keberanian untuk menyuarakan kegelisahan.

Selain dikenal sebagai musisi dan penulis lagu, Tjepi saat ini juga aktif sebagai Direktur Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya.

Aktivitasnya di ruang seni dan organisasi menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya dalam menjadikan musik sebagai medium untuk menyampaikan gagasan sekaligus membaca berbagai persoalan sosial di sekitarnya.

“Singgasana” sekaligus menjadi kejutan bagi para penggemar dan pendengar setia Tjepi. Jika sebelumnya karya-karya Tjepi memiliki pendekatan musikal yang lebih sederhana, kali ini ia hadir dengan full instrumen dan nuansa musik yang berbeda.

Eksplorasi tersebut memberikan warna baru tanpa meninggalkan salah satu identitas yang selama ini melekat pada Tjepi, yakni karakter vokalnya yang khas.

Suara khas Tjepi menjadi salah satu elemen yang membawa karakter tersendiri dalam lagu ini. Dipadukan dengan aransemen yang lebih penuh, “Singgasana” menghadirkan pengalaman dengar yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.

Perubahan tersebut membuat lagu ini tidak hanya menyampaikan pesan melalui lirik, tetapi juga membangun atmosfer yang lebih kuat melalui musiknya.

Secara lirik, “Singgasana” menggunakan simbol tahta dan singgasana untuk menggambarkan jarak antara mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan dengan masyarakat yang berada di bawahnya.

Hal tersebut tergambar sejak bait pertama: “Mereka duduk di singgasana kawan, Tertawa sambil menghitung angka, Diluar sana rakyat sengsara, Dijanjikan bahagia diberi derita.”

Lirik tersebut kemudian bergerak pada kritik mengenai kesenjangan antara janji dan kenyataan. “Di atas tahta, mereka berpesta, Di bawah sini kami meronta, Janji manis dusta berbisa, Berulang lagi tiada habisnya.”Disana menjadi gambaran keresahan terhadap keadaan ketika berbagai janji tidak selalu berbanding lurus dengan realitas yang dirasakan masyarakat.

Memasuki bagian berikutnya, suara kegelisahan tersebut berubah menjadi suara yang menuntut untuk didengar: “Sampai kapan derita ini terus teriak? Selalu saja yang kami terima hanyalah celoteh belaka.” Kemudian ditegaskan melalui lirik, “Dengarlah! kami bicara, hanya bicara dan tanpa dibungkam, Untuk harapan kami yang penuh cinta.”

Salah satu bagian yang menjadi pembeda dalam “Singgasana” adalah hadirnya puisi di tengah lagu.

Puisi tersebut menjadi penegasan terhadap gagasan utama karya, terutama melalui pertanyaan, “lalu kepada siapa kekuasaan itu bekerja?” Pertanyaan tersebut kemudian membawa pendengar pada gagasan bahwa rakyat tidak hidup dari janji, melainkan dari kenyataan yang mereka hadapi.

Seruan “jangan ajarkan kami untuk diam! Ajarkan kami untuk berpikir” menjadi salah satu bagian penting dalam lagu.

Pesan tersebut menempatkan keberanian bukan hanya sebagai keberanian untuk berbicara, tetapi juga keberanian untuk berpikir kritis, mempertanyakan keadaan, dan menyampaikan apa yang dianggap benar.

Meski membawa kritik sosial, lagu ini tidak dibangun sebagai ungkapan kebencian terhadap negeri.

Justru bagian akhir puisi menegaskan, “Bukan karena kami membenci negeri ini, / justru karena kami terlalu mencintainya.” Kritik dalam “Singgasana” ditempatkan sebagai bentuk kepedulian dan kegelisahan terhadap keadaan yang ada.

Sebagai musisi sekaligus Direktur LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, Tjepi terus membawa seni sebagai ruang pertemuan antara kreativitas, gagasan, dan realitas sosial.

Melalui “Singgasana”, ia tidak hanya menawarkan warna musikal baru kepada pendengarnya, tetapi juga menghadirkan karya yang mengajak untuk berpikir dan melihat kembali hubungan antara kekuasaan dan rakyat.

Kini, Singgasana – Tjepi sudah dapat didengarkan oleh para pendengar di berbagai platform musik digital. Kehadiran lagu ini menjadi langkah baru dalam perjalanan musikal Tjepi, sekaligus membuka babak eksplorasi baru dengan aransemen yang lebih penuh, karakter vokal yang tetap khas, dan pesan yang kuat melalui perpaduan musik serta puisi.