Tasik Raya

Tak Kunjung Datang Droping Air BPBD 700 KK Warga Bogam Bergantung Air Masjid

Tasikmalaya, tasikraya.com-
Pagi belum sepenuhnya terang sudah riuh, halaman Masjid Jami Al-Ihsan, di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya.

Puluhan jerigen dan galon berjejer, Ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan anak remaja antre dengan sabar.

Masyarakat antre mendapatkan air bersih dari penampungan Masjid. Selama dua bulan terakhir, Masjid kecil ini berubah fungsi. Selain tempat ibadah, Masjid menjadi satu-satunya sumber air bersih bagi ratusan keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat.

“Air sumur sudah mulai kering dari akhir April. Dulu paling dalam 3 meter sudah keluar air. Sekarang digali 10 meter juga gak ada. Jadi kami ambil air ke mesjid.”Ungkap cerita Dedeh Rohayati warga Dusun Cipari sambil menata jerigen, Minggu (28/6/2026).

Sontak, musim kemarau baru masuk dua bulan. Tapi dampaknya sudah terasa menyulitkan. Hampir 60 hari tanpa hujan deras membuat sumur-sumur warga kering.

“Sudah kering sumur dirumah, sumber air dari gunung masuknya ke Masjid. Maka kami antri tiap pagi sore ke mesjid ambil air.”Ujar Yayah, warga Bojonggambir lain.

Kehadiran ratusan warga setiap hari tentu membuat pengurus Masjid dilema. Pengurus DKM mengizinkan warga mengambil air dengan syarat 10 menit sebelum adzan solat lima waktu dihentikan. Tujuanya agar jemaah yang akan ibadag bisa wudlu.

“Ya, sebetulnya mengganggu ambil air dimesjid, wudlu juga gak cukup, tapi gimana lagi kami izinkan untuk kebutuhan masyarakat. Tapi, sepuluh menit sebelum adzan jangan ambil aor di mesjid biar buat wudlu.”Kata Ketua DKM Masjid Jami Al-Ihsan, Uun Suhendar.

Kendati demikian, keputusan DKM akhirnya bulat, Masjid tetap dibuka untuk warga. Alasannya sederhana tapi mendesak, tidak ada lagi titik air lain yang bisa dijangkau warga tanpa biaya transportasi belasan kilometer ke luar Desa.

“Ya, kami izinkan ini kan kebutuhan dasar kalau air. Insya Alloh aktifitas Ibadah mah aman.”Ujar Uun.

Data Pemerintah Desa Kertanegla mencatat sekitar 600-700 Kepala Keluarga terdampak. Mereka harus berjalan kaki membawa beban air setiap hari ke Masjid Jami. Satu-satunya sumber air yang masih mengeluarkan air.

Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, menyebut ini bukan kali pertama. Setiap musim kemarau, Dusun Cipari dan Cipatat selalu jadi langganan krisis air bersih.

“Ada dua dusun yang terdampak kekeringan, yaitu Dusun Cipari dan Dusun Cipatat yang ditinggali 600 kepala keluarga. Sumber air satu-satunya disalurkan ke masjid. Warga mengantre di sini dan pengambilan air dibatasim”Ungkap Bunyamin.

Pemdes sudah melapor ke Pemkab Tasikmalaya dan berharap ada droping air bersih dari BPBD Tasikmalaya. Namun hingga akhir Juni, bantuan tangki air belum juga datang.

Bagi warga, bantuan darurat memang penting. Tapi yang lebih mereka inginkan adalah solusi jangka panjang.

“Musim kemarau masih berlangsung dan sumber air di wilayah kami belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali mengalir. Kami butuh bantuan sekarang juga. Bantuanya yang pernanen misalnya dibangunkan sumur bor biar air warga terjaga.”Jelas Bunyamin.

Agar air bisa dirasakan semua warga, setiap keluarga dibatasi dua tiga jerigen saja perhari.

Selama langit Bojonggambir belum menurunkan hujan, Masjid Jami akan terus menjadi nadi kehidupan Desa Kertanegla. Tempat bersujud, sekaligus tempat bertahan hidup.