Kotatasikmalaya, tasikraya.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya penuhi panggilan dari Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, di Ruang Rapat DPRD I Tasikmalaya Kota, Jum’at (29/5/2020)
Pada kesempatan tersebut pihak BPBD kota Tasikmalaya menjelaskan tentang pelaksanaan kegiatan selama masa pandemi covid19.
“Dalam penyekatan tahap pertama, itu ada 8 titik dan akses masuk Kota Tasik sampai kita sederhanakan menjadi 4 titik.”ucapnya
Kepala BPBD kota Tasikmalaya, Ucu Anwar menyatakan bahwa BPBD bukanlah pembuat kebijakan, pihaknya hanya sebagai pelaksana saja dari kebijakan yang telah dibuat.
“Tapi BPBD fungsinya adalah sebagai implementator saja dan sebagai pelaksana tugas yang di berikan gugus tugas.”katanya
“kita sebetulnya tidak pernah mengajukan anggaran. Akan tetapi, kita mengajukan anggaran pada posisi aktivitas yang dilakukan. Jadi, ketika kegiatan sudah berjalan baru kita menyampaikan kebutuhan, bukan kebutuhan dulu.”jelas Ucu tentang anggaran.
“Sebetulnya kita real time dan real cost (waktu nyata dan biaya yang riil) tidak ada yang di lebih-lebihkan.”tegas Ucu
Alokasi anggaran untuk operasional dan non operasional adalah sejumlah Rp. 6.3 Milyar. Anggaran tersebut dipergunakan oleh BPBD diantaranya untuk membeli tenda kecil, membeli batu baterai, kursi plastik dsb.
Sementara Dede Muharram selaku Ketua Komisi IV Dprd Kota Tasikmalaya menjelaskan pandangan dan apresiasinya terhadap BPBD kota Tasikmalaya.
“Sebagai mitra kerja BPBD Kota Tasikmalaya mengucapkan banyak terimakasih dan apresiasi setingginya atas kinerja BPBD. Mereka bekerja keras selama wabah Covid-19.Sehingga mereka full 24 Jam, mudah-mudahan kerja mereka dengan hasilnya hari ini merasakan menjadi amal kebaikan bagi mereka.”terangnya
Namun selain mengapresiasi, Dede juga menyoroti masalah transparansi dan akuntabilitas dari penggunaan dana tersebut.
“Dari anggaran 6.3 Miliar tersebut kami meminta kepada temen-temen BPBD agar bisa melaporkan secara tertulis secara rinci. Pihaknya pingin adanya ke transparanan, dan Akuntabel, karena bagaimana pun juga anggaran yang di keluarkan itu cukup signifikan besar dan menjadi sesuatu hal dalam kata kutif Sexy.”tuturnya
Secara umum anggaran tersebut telah dilaporkan, contohnya dari makan & minum Rp. 2.5 Milyar dan Kemudian untuk masker 1.5 Milyar. Paling tidak umpamanya kasus masker ini dengan contoh 500 ribu masker dari nominal anggaran 1.5 Milyar
“Kita pun ingin mendapatkan sebuah penjelasan dari pihak dinas itu tentang pendistribusiannya. Artinya, itu yang di sediakan oleh BPBD dengan cukup Sexy.”tandasnya
(Rizky/tasikraya)
