Oleh : Zulkifli Malik
Lagi Musuhan
Tasikraya.com – Fenomena radikalisme yang terjadi beberapa tahun terakhir ini menjadi sebuah gugatan terhadap warna keberagaman Islam di Indonesia ini.
Pemahaman keagamaan mainstream yang dianut mayoritas umat dinilai bukan merupakan pemahaman yang benar, karena berbeda dengan Islam yang ideal, Islam yang dicontohkan oleh Salaf al-shalih.
Keunikan ekspresi keberislaman masyarakat Indonesia dicerca sebagai “Kejahiliyahan modern” yang jauh dari Islam yang benar, otentik, dan asli.
Otentisitas Islam hilang ketia ia dicampuri oleh unsur luar, Islam Indonesia kehilangan nilai keaslianya semenjak ia mengakomodasi dan berakulturasi dengan budaya dan sosial-politik lokal. Masuknya warna budaya lokal dipandang melahirkan Bid’ah atau Khurafat.
Akan tetapi, dibalik klaim otentisitas itu ada kenyataan lain yang menggelitik orang untuk bertanya, Dimana letak keislaman NU dan Muhammadiyah dan lain-lain yang selama ini menjadi warna keberagaman Islam di tanah air dalam peta baru “Islam Otentik” itu?
Sungguh ironi memang menghadapi fenomena ini, alangkah baiknya agar kemesraan tetap terjaga mari kesampingkan masalah ini, karena ada yang lebih menarik untuk kita bahas yakni bagaimana bisa provinsi tempat Sunda berdiri (Jawa Barat) dinobatkan sebagai penyandang tingkat Intoleran paling tinggi di tengah pengakuan Islam Sunda dan Sunda Islam?
Tulisan Dede mariana, “Masyarakat Jawa Barat Intoleran Apa Sebabnya?,” di Harian Umum Pikiran Rakyat (11/01/2011) menarik untuk dicermati lebih jauh. Tulisan yang sepenuhnya berangkat dari temuan Moderate Muslim Society (MMS) ini menunjukan Jawa Barat berada di rangking tertinggi dalam urutan wilayah intoleransi di Indonesia, Kekerasan di Bekasi, Bogor dan Kuningan dijadikan sampel untuk menyimpilkan hal tersebut.
Kalau mau jujur, sesungguhnya intoleran itu bukanlah watak asli masyarakat Jawa Barat, bukan tabe’at orang Sunda. Hanya cangkokan dari luar dan kebetulan masyarakat Sundanya banyak yang tercerabut dari akar kulturalnya, sehingga dengan mudah menerima cangkokan itu.
Seandanya kita membuka falsafah yang ada, kita temukan kearifa lokal yang sangat menjungjung tinggi multikulturalisme, memuliakan tamu dari manapun datangnya dan apapun agamanya. Mungkin bisa kita simpulkan bahwa akar permasalahan yang terjadi dengan Sunda dan Islam bukan berasal dari salah satunya, baik itu Sunda ataupun Islam, melainkan unsur luar yang mencoba mengerogoti kemesraan keduanya.
Mungkin karena arus informasi dan pergerakan ideologi yang semakin mengglobal tidak hanya berdampak pada lahirnya pola kehidupan yang serba instan, melainkan juga berdampak pada tradisi dan corak keberagaman yang semakin menguat dan keras dalam mendominasi ruang publik bangsa kita.
Disinilah gagasan “Pribumisasi islam” yang pernah dilontarakan oleh Abdurrahman Wahid dimaksudkan untuk mencairkan pola dan karakter islam sebagai sesuatau yang normatif dan peraktek keagamaan menjadi sesuatu yang kontekstual. Dalam “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai sesuatu yang normatif yang berasal dari tuhan diakomodasikan kedalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.
Islam Pribumi dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi keanekaragaman interpensi dalam praktek kehidupan beragama (Islam) disetiap wilayah yang berbeda- beda. Dengan demikian, Islam tidak lagi dipandang secara tunggal, melainkan majemuk. Karena adanya lingkungan budaya yang berbeda mengakibatkan munculnya ke-Islaman yang berbeda.
Hal ini hanya membawa akibat adanya realitas keragaman penerapan prinsip umum dan universal suatu agama, yaitu keanekaragaman berkenaan dengan tata cara (technovalitas), walaupun bisa juga berada dalam tahap keragaman dalam hal yang abstrak dan tinggi, karena itu kebanyakan orang tidak mudah dikenali dari segi benar atau salahnya secara normatif universal.
Namun, hal ini tidak ditafsirkan sebagai sebuah sikap untuk mengkompromikan suatu prinsip. Hal ini dimaksudkan bahwa, sebagai “tata cara”, inti permasalahan ini semua hanya bernilai “metodologis” dan “instrumental”, dan tidak bersifat instrinsik atau fundamental.
Jadi kedatangan Islam itu selalu mengakibatkan adanya perombakan dalam masyarakat atau pengalihan bentuk (tranformasi) soasial kerah yang lebih baik. Kedatangan Islam tida bersifat destruktif atau bersifat memotong suatu masyaratkat dari masa lampauanya semata, melainkan ikut serta dalam melestarikan segala hal yang baik dan benar dari masa lampaudan bisa dipertahankan universalitas Islam.
Jadi dengan begitu harusnya Islam dan Sunda masih bisa tetap mesra dengan tanpa kehilangan haknya sebagai sepasang kekasih yang sering merasa bahwa dunia milik berdua, karena dengan begitu klaim otentisitas Islam suatu pihak tidak akan mengganggu kemesraan antara Islam dan Sunda. (Jul/tasikraya.com)
