Tasik Raya

Bawaslu Kota Tasikmalaya gelar Refleksi dan Evaluasi Pengawasan Pemilu bersama Mahasiswa

Tasikmalaya – Badan Pengawas Pemilu Kota Tasikmalaya kembali menyelenggarakan “Refleksi dan Evaluasi Pengawasan Pemilu Partisipatif Bersama Mahasiswa” di Grand Metro Hotel, Jln. KH Zaenal Mustofa, Cihideung, Kota Tasikmalaya, Selasa (24/12/2019).

Kegiatan refleksi dan evaluasi ini dihadiri oleh mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi se-Kota Tasikmalaya.

Ijang Jamaludin selaku Ketua Bawaslu Kota Tasikmalaya mengatakan dalam kegiatan tersebut akan memaparkan kinerja dan hasil pengawasan yang telah dilakukan oleh Bawaslu Kota Tasikmalaya.

“Terkait kegiatan refleksi dan evaluasi pengawasan partisipatif pemilu 2019 bersama mahasiswa, ini merupakan proses evaluasi Bawaslu terkait pemilu 2019 kemarin” ungkapnya.

Ijang menambahkan Khusus di Kota Tasikmalaya, partisipasi pemilu di Kota Tasikmalaya termasuk yang tertinggi di Jawa Barat dengan presentase 87% namun tingkat pengawasan partisipatif nya 0% dari masyarakat, hal ini dibuktikan dengan ada nya 9 laporan namun yang melapor adalah peserta pemilu atau partai jadi dapat disimpulkan ternyata partisipasi pengawasan masyarakat dan pemantau 0% untuk melaporkan ada nya indikasi pelanggaran.

“Hal tersebut menjadi evaluasi bagi kami dan masukan-masukan dari mahasiswa selama diskusi akan menjadi bahan rekomendasi untuk melakukan penguatan terhadap pengawasan partisipatif” ujarnya.

Pada kegiatan tersebut turut hadir juga Yusuf Kurnia selaku Koordinator Divisi Hukum, Data dan Informasi Bawaslu Jawa Barat mengatakan bahwa pemilu di Indonesia menyisakan terbelahnya masyarakat antar pendukung dari pemilu 2019

“Perbedaan pilihan menjadi konflik di masyarakat dan masih di anggap tabu oleh sebagian besar masyarakat. Hal ini menjadi cerminan bahwa belum terbangun kultur demokrasi yang baik. Maka dalam hal ini bawaslu perlu bersinergi dengan berbagai elemen di masyarakat, termasuk mahasiswa untuk bisa membangun budaya demokrasi yang lebih baik” ungkapnya.

Yusuf menambahkan Disisi lain potret pemilu 2019 ternyata pemilih transaksional masih menjadi problem bawaslu, karena trend pelanggaran terbanyak di pemilu 2019 masih di politik uang dalam berbagai bentuk nya mulai dari membagi uang dan berevolusi menjadi asuransi. Ini merupakan pekerjaan besar yang harus kami tuntaskan.

Sementara itu salah satu peserta, Muhammad Fauzi mahasiswa Universitas Negeri Siliwangi Tasikmalaya mengatakan kegiatan ini sangat diperlukan untuk memperkuay sinergitas antar mahasiswa.

“Kedepannya Bawaslu bersama mahasiswa bisa berkolaborasi untuk mensosialisasikan pemilu yang sehat di masyarakat” pungkasnya. (Galih/Ar/tasikraya.com)